Minggu, 08 Februari 2015

TAUHID DAN PENGAMALAN-NYA.



III.KEDUDUKAN TAUHID DAN PENGAMALAN-NYA.
 1. Tentang ibadah kepada Allaahh:
Firman Allaahh ta’alaa dalam Al Qur-an (surat Adz Dzariyaat ayat 56):
Wamaa khalaqtul jinna wal insa illaa li’yabuduun.
Artinya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Ibadah ialah: Penghamba-an diri kepada Allaahh Ta’alaa dengan menta-ati segala perintahNya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah di sampaikan oleh  Rasulullaahh Shalallaahhu ‘alayhhi wassalam. Dan inilah hakikat/haqiqat agama islam. Karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allaahh semata-mata yang disertai dengan kepatuhan yang mutlak dengan penuh rasa cinta dan rendah diri kepadaNya.
Ibadah juga berarti segala ‘itikad, perkata-an, perbuatan, lahir maupun bathin hanya yang dicintai dan diridlai Allaahh semata. Dan suatu amal akan diterima oleh Allaahh apa bila dikerjakan dengan ikhlash.

2. Tentang agar menjauhi thaghut.
Pirman Allaahh dalam  Al Qur-an (surat An-Nahl; ayat 36): 
Walaqad baatsnaa fii kulli umatir-rasuulaan anibuduulaahha waajtanibuuth-thaghuuta faminhhum-man hhadzaallaahh wa minhhum-man haqat alayhhidl-dlalatu fasiiruu fiil ardli faandhuruu kayfa kaana aqibatul mukadz-dzibiina.
Artinya:
Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allaahh (saja), dan jauhilah Thaghut)* itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allaahh dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
)*Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allaahh s.w.t.

Firman Allaahh dalam Al Qur-an (surat Al Ambiya ayat 25):
Wamaa arsalnaa min qablika mir-rasulin illaa nuuhiy ilayhhi an-nahhu laa ilaahha illaa anaa fa buduuni.
Artinya:
Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".
Firman Allaahh dalam Al Qur-an (surat Al Araaf ayat 59): 
Laqad arsalnaa nuuhaan ilaa qawmihhi faqaala yaa qaw mi buduullaahha maa lakum min ilayhhin ghayruhhu innii akhaafu alykum adzaaba yawmin adhiimin.
Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allaahh, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allahh), Aku takut kamu akan ditimpa adzab hari yang besar (kiamat).
Firman Allaahh dalam Al Qur-an (surat Al Araaf ayat 63): 
Awa ajibtum an jaa-aakum dzikrummirrabbikum alaa rajulimminkum liyundzirakum walitattaquu wala allakum turhamuuna.
Atinya:
Dan apakah kamu (Tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantara-an seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan Mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?
Wailaa tsamuuda akhahhum shalihaan qaala; yaa qaw ‘mibuduullahha maalakum min ilaahhin ghayruhhu  qad jaa-aatkum bayyinatum-mirrabbikum hhadzihhi naaqatuullahhi lakum aaayatan fadzaruuhha taakul fil-ardliillaahhi Walaa tamassuuhhaa bisuu iin fayaakhudzakum ‘adzaabun aliim.
Artinya:
Dan (Kami Telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka shaleh. ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allaahh, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya Telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. unta betina Allaahh Ini menjadi tanda bagimu, Maka biarkanlah dia makan di bumi Allaahh, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksa-an yang pedih."
Firman Allaahh dalam Al Qur-an (surat Al Araaf; ayat 85): 
Wailaa madyana akhaahhum Syu aybaan qaala yaaqaw mibudullaahha maalakum min ilaahhin ghayruhhu qad jaa-aatkum bayyinatum mirabbikum fa awful Kayla walmizaana walaatabkhasunnasa asy-ya aahum walaatufsiduu fil ardli bada islaahihhaa dzalikum khayrul lakum inkuntum muu-miniina.
Artinya:
Dan (Kami Telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan)* saudara mereka, Syu'aib. ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allaahh, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya Telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman".
)*Mad-yan adalah nama putera nabi Ibrahim a.s. Kemudian menjadi nama kabilah yang terdiri dari anak cucu Mad-yan itu. Kabilah Ini diam di suatu tempat yang juga dinamai Mad-yan yang terletak di pantai laut merah di tenggara gunung Sinai.

3.Tentang agar menyembah Allaahh saja dan berbuat baik kepada kedua orang tua dan  wasiat Allaahh kepada Nabi Muhammad.
Firman Allaahh dalam (Al Qur-an surat Al An’am; ayat 151):
Qul ta’aalaw atlu maa harrama rabbukum ‘alaykum allaatusyrikuubihhi wabil waalidayni ihsaanan walaa taqtuluu awlaadakum min imlaaqin nahnu narzuqukum waiyyahhum walaa taqrabuul-fawaahisya maa dlahhara minhhaa wamaa bathana walaa taqtuluun-nafsal latii harramallaahhu illaa bilhaqqi dzaalikum wash-shaakum bihhi la’alakum ‘taqiluun
Artinya:
Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu Karena takut kemiskinan, kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allaahh (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar)*". demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

)*maksudnya yang dibenarkan oleh syara' seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya.

Firman Allaahh dalam Al Qur’an (surat Al An’am; ayat 152):
walaa taqrabuu maalalyatiimi illaa billatii hhiya ahsanu hattaa yablugha asyuddahhu wa-awfuulkayla walmiizaana bilqisthi laa nukal-lifu nafsan il-laa wus’ahhaa wa-idzaa qultum ‘fadiluu walaw kaana dzaa qurbaa wabi’ahdillaahhi awfuu dzaalikum wash-shaakum bihhi la’allakum tadzak-karuun.
Artinya:
Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfa-at, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu))*, dan penuhilah janji Allaahh)*. yang demikian itu diperintahkan Allaahh kepadamu agar kamu ingat.

)*maksudnya mengatakan yang Sebenarnya meskipun merugikan kerabat sendiri.
)*maksudnya penuhilah segala perintah-perintah-Nya.

Syirik ialah; Memperlakukan sesuatu sellain Allaahh disamakan dengan Allaahh dalam hal yang merupakan hak khusus bagiNya.

Ibnu Mas’ud radliyallahhu ‘anhhu berkata:
”Barang siapa yang ingin meliha wasiat Muhammad shalallaahhu a’layhhi wassalam, yang tertera diatasnya cin-cin beliau setempel beliau, maka hendaklah dia membaca Firman Allaahh ta’alaa: Katakanlah-(Muhammad): Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu,yaitu: janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya… dan seterusnya, sampai kepada firman-Nya: dan (kubacakan) sungguh inilah jalanku berada dalam keadaan lurus…dan seterus-nya. (atsar ini diriwayatkan At Tirmidzi, ibnu Al Mundzir dan ibnu Abi Hatim.

SYIRIK ADALAH SESUATU YANG MENGGUGURKAN TAUHID



II. PEMBAGIAN SYIRIK.
Syirik itu tebagi tiga (3) bagian, yaitu:
1.Syirik Akbar (besar).
2.Syirik Ashghar (kecil).
3.Syirik Khafiy (tersembunyi).
1.Syirik Akbar ialah:
Berakibat gugurnya seluruh amal dan menyebabkan kekal di neraka (bagi yang meninggal dalam keada-an demikian).
Sebagaimana Firman Allaahh Ta’alaa dalam (Al Qur-an surat Al-An’aam ayat 88):Dzaalika hhudallaahhi yahhdi bihhi may-yasyaa-uu min ‘ibadihhi Walaw asyrakuu lahabitha ‘anhhum maa kaanuu ya’maluun”.
Artinya:
Itulah petunjuk Allaahh, yang dengan-Nya dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya di antara hamba-hambaNya. seandainya mereka mempersekutukan Allaahh, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang Telah mereka kerjakan.
Firman Allaahh dalam (Al Qur-an surat At-taubah; ayat 17):Maa kaana liimusyrikiina ay-yamuruu masaajidallaahhi syahhidiina a’laa  anfusihhim bilkufri uulaaiika habithat a’maaluhhum wafiinnari hhum khaliduun.
Artinya:
Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masji-masjid Allaahh, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri masih kafir, itulah orang-orang yang sia-sia pekerja-annya, dan mereka kekal didalam neraka.
Bagi orang yang meninggal dunia  sedang ia masih melakukan syirik akbar, maka ini tidak akan di ampuni dan diharamkan baginya Surga. Sebagaimana Firman Allaahh Ta’ala dalam (Al Qur-an surat An- Nisa; ayat 48):
Innallaahha laa yughfiru an yusyrika bihhi wayagh firu maa duuna dzalika limay-yasyaa-uu wamay-yusyrik bil-laahhi faqadiftaraa isman ‘adhiimaa.
Artinya:
Sesungguhnya Allaahh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. barangsiapa yang mempersekutukan Allaahh, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.
Firman Allaahh dalam ( Al Qur-an surat Al Maidahh; ayat 72):
Innahhu may-yusyrik billahhi faqad haramallahhu a’layhhil jannata wamaawaahhun-naru wamaa lidh-dhaalimiina min anshaarin.
Artinya:
Sesungguh-nya orang-orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allaahh  maka pasti Allahh kepadanya mengharamkan Surga, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidaklah ada bagi orang-orang dhalim itu seorang penolongpun.
Diantara syirik akbar ini ialah: berdo’a/memohon kepada orang-orang yang sudah meninggal, kepada berhala-berhala, menyembelih untuk mereka dan lain sebagainya.
2.Syirik Ashghar ialah:
Perbuatan yang ditetapkan oleh Allaahh nash-nash Al-Qur-an dan Sunnahh sebagai syirik, akan tetapi tidak termasuk syirik akbar, misalnya seperti riya’ dalam beramal, bersumpah dengan selain Allaahh, ucapan “Masya Allaahh wasya’aa Fulan (apa yang dikehendaki Allaahh dikehendaki oleh si Fulan). Dan lain sebagainya.
Rasulullaahh Shalallaahhu a’layhhi wassalam bersabda:
“Akhwafu maa akhaafu a’laykumusy-syarkul asygharu fasuila ‘anhhu faqaala; ar-rayaa-uu
Artinya:
Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil, maka beliau ditanya tentang syirik kecil tersebut,kemudian beliau menjawab:”yaitu riya”.(HR.Imam ahmad, Thabrani dan Baihaqi dari shahabat Mahmud bin Lubaid Al Anshariy Radliyallaahhu anhhu .
“Man khalafa bisyay-in dunallaahhi faqad asyraka”.
Artinya:
“Barang siapa bersumpah dengan sesuatau selain Allaahh, maka ia telah berbuat syirik” (HR.Imam Ahmad dengan sanad yang shahih dariUmar bin Khathab radliyallaahhu anhhu).
“Laa taquuluu; maa syaa-Allaahhu wasyaa-aa fulaanuw walakin quuluu maasyaa-Allaahhu tsumma syaa-aa fulaan”.
Artinya:
“Janganlah kamu mengatakan: apa yang dikehendaki Allaahh dan yang dikehendaki siFulan, namun katakanlah; apayang dikehendaki oleh Allaahh, kemudian dikehendaki oleh siFulan”.(HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih dari Hudaifahh Bin Yaman radliyallahhu an’hhu)
Syirik  AShghar ini tidak mengeluarkan-nya dari keIslaman tidakpula berakibat kekal didalam neraka. Hanya saja ia mengurangi kesempuna-an Tauhid yang Haqeqi/ hakiki.
3. Syirik Khafiy ialah:
Syirik Khafiy juga bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu: Syirik Akbar dan Syirik Ashghar, syirik khafiy ini  dapat dimasukan kedalam salah satu dari dua macam syirik tersebut.
Syirik khafiy yang masuk syirik akbar ialah: seperti orang-orang munafiq yang menyembunyikan iman mereka, mereka yang bathil dan menampakan keIslaman-nya karena riya’ dan takut akan (kemaslahatan) diri mereka.
Syirik khafiy yang menjadi syirik ashghar ialah:
Seperti riya’ sebagaimana (yang di jelaskan) dalam hadits Mahmud bin Lubaid Al Anshariy dan hadits Abu Sa’id  yang dijelaskan di (2. Syirik Ashgar). Dan hanya Allaahh saja  yang dapat memberi pertolongan.

Senin, 02 Februari 2015

Ilmu Tauhid



TAUHID
umat islam umumnya mengenal filsafat yang disebut dengan syariat- Tarikat-Hakikat-Ma’rifat yang pada intinya mengupas tataran kalbu (iman) dan sekaligus kesempurna-an. Tidak dapat dipungkiri, setiap manusia yang penasaran dengan nilai-nilai hidup (yang tinggi) pasti memburu hal yang insya Allaahh tidak diragukan keguna-annya. Karena sesuai hukum alam, tujuan manusia hidup hanyalah bahagia (di dunia dan akhirat).

Bahkan tidak sedikit orang yang “njujug” ke ma’rifat tanpa mengenal syari’at-thariqat-haqiqat. Padahal hal tersebut mustahil adanya (untuk mengenal ma’rifat). Bila kita berani jujur, sesungguhnya kita hanya tahu apa itu (penyebutan/ kata) ma’rifat namun tanpa pernah sedikit menuju kesana, apalagi memasukinya. Bahkan untuk tahap haqiqat saja, itu pun juga susah luar biasa.
Sungguh, bila kita perhatikan sudah ada beberapa manusia yang mengaku telah ma’rifat. Jarang orang berkata “aku baru syari’at/ thariqat/ haqiqat”. Nah, hal tersebut telah menjadi kunci bahwa sesiapapun yang telah mencapai ma’rifat/ haqiqat akan jauh dari pengakuan seperti demikian. Karena kunci orang luhur adalah “jauh dari rasa sombong dalam wujud apapun.”
Kalau kita amati orang pandai jarang ngaku pandai,bahwa tidak ada orang pandai yang berkata “aku pandai,” justru sebaliknya malah diam pura-pura tidak tahu(menyembunyikan kelebihannya) dan berusaha berendah hati, serendah-rendahnya. Baiklah, sekarang kita akan membahasnya:

I.PEMBAGIAN TAUHID.
Tauhid terbagi menjadi tiga (3) bagian:
1.Tauhid Rubbubiyahh.
Tauhid Rubbubiyahh ialah : percaya bahwa Allahh Subhaanahhuwata’alaa Pencipta dan Pengatur segala sesuatu dan tak ada sekutu bagiNya.
2.Tauhid Uluhhiyahh.
Tauhid Uluhiyahh ialah:  percaya bahwa Allahh Subhaanahhuwata’alaa adalah Tuhan yang hendak disembah, tak ada sekutu bagiNya. Itulah Haqeqat/hakekat makna LAA ILAAHHA ILLALLAAHH, yang berarti tak ada yang berhak disembah selain Allaahh.
3.Tauhid Asma dan Shifat.
Tauhid Asma dan Shifat ialah: Percaya kepada seluruh nama-nama Allaahh dan Shifat-ShifatNya yang tertera didalam Al-Qur-an  dan Hadits-Hadits yang Shahih, lalu menetapkan nama-nama dan Shifat-Shifat itu hanya untuk Allaahh saja dalam bentuk yang sesuai dan layak bagiNya, tanpa Tahrif (perubahan), tanpa Ta’thil (peniada-an), tanpa Takyif (pertanya-an): Bagaimana?) dan tanpa Tamsil (penyerupa-an) sebagai bentuk aflikasi dari Firman Allaahh Subhaanahhuwata’ala dalam (al Qur-an surat Al Ikhlash: ayat 1-4):
”Qul huwallaahhu ahad Allaahhush-shamad lam yalid walam yuulad walam yakullaahhu kufuuwaan ahad”.
Artinya:
Dialah Allaahh yang maha Esa. Allaahh adalah  Tuhan bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada diperanakan. Dan tidak seorangpun yang setara dengan Dia.
Dan Firman Allaahh Ta’alaa dalam (Al Qur-an surat Asy-Syuura ayat 11):
Fatiris-samaawaati wal ardli ja ala lakum min angfusikum azwaajaa yadz rauukum fiihhi laysa kamitslihhi syay-uun wahhuwas-samiiul bashiiru.
Artinya:
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikanNya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha mendengar dan Melihat.
Tapi sebagian ulama membagi Tauhid  hanya membagi menjadi dua bagian, yaitu Tauhid Uluhiyahh dan Rubbubiyahh saja. Sedangkan Tauhid Asma dan Shifat dimasukan kedalam Tauhid  Rubbubiyahh. Sebenar-nya tidak ada perselisihan dalam masalah ini, Karena tujuan dari kedua macam ini sudah jelas.