Senin, 02 Februari 2015

Ilmu Tauhid



TAUHID
umat islam umumnya mengenal filsafat yang disebut dengan syariat- Tarikat-Hakikat-Ma’rifat yang pada intinya mengupas tataran kalbu (iman) dan sekaligus kesempurna-an. Tidak dapat dipungkiri, setiap manusia yang penasaran dengan nilai-nilai hidup (yang tinggi) pasti memburu hal yang insya Allaahh tidak diragukan keguna-annya. Karena sesuai hukum alam, tujuan manusia hidup hanyalah bahagia (di dunia dan akhirat).

Bahkan tidak sedikit orang yang “njujug” ke ma’rifat tanpa mengenal syari’at-thariqat-haqiqat. Padahal hal tersebut mustahil adanya (untuk mengenal ma’rifat). Bila kita berani jujur, sesungguhnya kita hanya tahu apa itu (penyebutan/ kata) ma’rifat namun tanpa pernah sedikit menuju kesana, apalagi memasukinya. Bahkan untuk tahap haqiqat saja, itu pun juga susah luar biasa.
Sungguh, bila kita perhatikan sudah ada beberapa manusia yang mengaku telah ma’rifat. Jarang orang berkata “aku baru syari’at/ thariqat/ haqiqat”. Nah, hal tersebut telah menjadi kunci bahwa sesiapapun yang telah mencapai ma’rifat/ haqiqat akan jauh dari pengakuan seperti demikian. Karena kunci orang luhur adalah “jauh dari rasa sombong dalam wujud apapun.”
Kalau kita amati orang pandai jarang ngaku pandai,bahwa tidak ada orang pandai yang berkata “aku pandai,” justru sebaliknya malah diam pura-pura tidak tahu(menyembunyikan kelebihannya) dan berusaha berendah hati, serendah-rendahnya. Baiklah, sekarang kita akan membahasnya:

I.PEMBAGIAN TAUHID.
Tauhid terbagi menjadi tiga (3) bagian:
1.Tauhid Rubbubiyahh.
Tauhid Rubbubiyahh ialah : percaya bahwa Allahh Subhaanahhuwata’alaa Pencipta dan Pengatur segala sesuatu dan tak ada sekutu bagiNya.
2.Tauhid Uluhhiyahh.
Tauhid Uluhiyahh ialah:  percaya bahwa Allahh Subhaanahhuwata’alaa adalah Tuhan yang hendak disembah, tak ada sekutu bagiNya. Itulah Haqeqat/hakekat makna LAA ILAAHHA ILLALLAAHH, yang berarti tak ada yang berhak disembah selain Allaahh.
3.Tauhid Asma dan Shifat.
Tauhid Asma dan Shifat ialah: Percaya kepada seluruh nama-nama Allaahh dan Shifat-ShifatNya yang tertera didalam Al-Qur-an  dan Hadits-Hadits yang Shahih, lalu menetapkan nama-nama dan Shifat-Shifat itu hanya untuk Allaahh saja dalam bentuk yang sesuai dan layak bagiNya, tanpa Tahrif (perubahan), tanpa Ta’thil (peniada-an), tanpa Takyif (pertanya-an): Bagaimana?) dan tanpa Tamsil (penyerupa-an) sebagai bentuk aflikasi dari Firman Allaahh Subhaanahhuwata’ala dalam (al Qur-an surat Al Ikhlash: ayat 1-4):
”Qul huwallaahhu ahad Allaahhush-shamad lam yalid walam yuulad walam yakullaahhu kufuuwaan ahad”.
Artinya:
Dialah Allaahh yang maha Esa. Allaahh adalah  Tuhan bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada diperanakan. Dan tidak seorangpun yang setara dengan Dia.
Dan Firman Allaahh Ta’alaa dalam (Al Qur-an surat Asy-Syuura ayat 11):
Fatiris-samaawaati wal ardli ja ala lakum min angfusikum azwaajaa yadz rauukum fiihhi laysa kamitslihhi syay-uun wahhuwas-samiiul bashiiru.
Artinya:
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikanNya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha mendengar dan Melihat.
Tapi sebagian ulama membagi Tauhid  hanya membagi menjadi dua bagian, yaitu Tauhid Uluhiyahh dan Rubbubiyahh saja. Sedangkan Tauhid Asma dan Shifat dimasukan kedalam Tauhid  Rubbubiyahh. Sebenar-nya tidak ada perselisihan dalam masalah ini, Karena tujuan dari kedua macam ini sudah jelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar