TAUHID
umat islam umumnya mengenal filsafat
yang disebut dengan syariat- Tarikat-Hakikat-Ma’rifat yang pada intinya
mengupas tataran kalbu (iman) dan sekaligus kesempurna-an. Tidak dapat
dipungkiri, setiap manusia yang penasaran dengan nilai-nilai hidup (yang
tinggi) pasti memburu hal yang insya Allaahh tidak diragukan keguna-annya.
Karena sesuai hukum alam, tujuan manusia hidup hanyalah bahagia (di dunia dan
akhirat).
Bahkan tidak sedikit orang yang
“njujug” ke ma’rifat tanpa mengenal syari’at-thariqat-haqiqat. Padahal hal
tersebut mustahil adanya (untuk mengenal ma’rifat). Bila kita berani jujur,
sesungguhnya kita hanya tahu apa itu (penyebutan/ kata) ma’rifat namun tanpa
pernah sedikit menuju kesana, apalagi memasukinya. Bahkan untuk tahap haqiqat
saja, itu pun juga susah luar biasa.
Sungguh, bila kita perhatikan sudah
ada beberapa manusia yang mengaku telah ma’rifat. Jarang orang berkata “aku
baru syari’at/ thariqat/ haqiqat”. Nah, hal tersebut telah menjadi kunci bahwa
sesiapapun yang telah mencapai ma’rifat/ haqiqat akan jauh dari pengakuan
seperti demikian. Karena kunci orang luhur adalah “jauh dari rasa sombong dalam
wujud apapun.”
Kalau kita amati orang pandai jarang
ngaku pandai,bahwa tidak ada orang pandai yang berkata “aku pandai,” justru
sebaliknya malah diam pura-pura tidak tahu(menyembunyikan kelebihannya) dan
berusaha berendah hati, serendah-rendahnya. Baiklah, sekarang kita akan
membahasnya:
I.PEMBAGIAN
TAUHID.
Tauhid terbagi menjadi tiga (3) bagian:
1.Tauhid
Rubbubiyahh.
Tauhid Rubbubiyahh
ialah : percaya bahwa Allahh Subhaanahhuwata’alaa Pencipta dan
Pengatur segala sesuatu dan tak ada sekutu bagiNya.
2.Tauhid Uluhhiyahh.
Tauhid Uluhiyahh
ialah: percaya bahwa Allahh
Subhaanahhuwata’alaa adalah Tuhan yang hendak disembah, tak ada sekutu
bagiNya. Itulah Haqeqat/hakekat makna LAA
ILAAHHA ILLALLAAHH, yang berarti tak ada yang berhak disembah
selain Allaahh.
3.Tauhid Asma
dan Shifat.
Tauhid Asma dan
Shifat ialah: Percaya kepada seluruh nama-nama Allaahh dan Shifat-ShifatNya
yang tertera didalam Al-Qur-an dan
Hadits-Hadits yang Shahih, lalu menetapkan nama-nama dan Shifat-Shifat itu
hanya untuk Allaahh saja dalam bentuk yang sesuai dan layak bagiNya,
tanpa Tahrif (perubahan), tanpa Ta’thil (peniada-an), tanpa Takyif (pertanya-an):
Bagaimana?) dan tanpa Tamsil
(penyerupa-an) sebagai bentuk aflikasi dari Firman Allaahh Subhaanahhuwata’ala
dalam (al Qur-an surat Al Ikhlash: ayat 1-4):
”Qul
huwallaahhu ahad Allaahhush-shamad lam yalid walam yuulad walam
yakullaahhu kufuuwaan ahad”.
Artinya:
Dialah Allaahh
yang maha Esa. Allaahh adalah
Tuhan bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada
diperanakan. Dan tidak seorangpun yang setara dengan Dia.
Dan Firman Allaahh
Ta’alaa dalam (Al Qur-an surat Asy-Syuura ayat 11):
Fatiris-samaawaati wal ardli ja ‘ala lakum min angfusikum azwaajaa yadz rauukum fiihhi
laysa kamitslihhi syay-uun wahhuwas-samiiul bashiiru.
Artinya:
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu
dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-
pasangan (pula), dijadikanNya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada
sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha mendengar dan Melihat.
Tapi sebagian
ulama membagi Tauhid hanya membagi
menjadi dua bagian, yaitu Tauhid Uluhiyahh dan Rubbubiyahh saja.
Sedangkan Tauhid Asma dan Shifat dimasukan kedalam Tauhid Rubbubiyahh. Sebenar-nya tidak ada
perselisihan dalam masalah ini, Karena tujuan dari kedua macam ini sudah jelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar