Alat untuk Ma’rifat
Alat yang digunakan untuk ma’rifat
telah ada dalam diri manusia yaitu Qalbu (hati), qalbu selain alat untuk merasa
juga alat untuk berfikir. Bedanya Qalbu dengan akal ialah:
· Bahwa akal takbisa
memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan.
· Sedangkan Qalbu bisa
mengetahui haqiqat dari segala yang ada dan jika dilimpahi cahaya Tuhan bisa
mengetahui rahasia-rahasia Tuhan.
Qalbu yang telah dibersihkan dari
segala dosa dan maksiat melalui serangkaian dzikir dan wirid secara teratur
akan dapat mengetahui rahasia-rahasiaTuhan, yaitu sa-at hati tersebut disinari
cahaya Tuhan.
Proses sampainya qalbu pada cahaya Tuhan ini erat kaitannya dengan dengan konsep takhalli, tahalli, tajalli.
Proses sampainya qalbu pada cahaya Tuhan ini erat kaitannya dengan dengan konsep takhalli, tahalli, tajalli.
1. Takhalli yaitu mengosongkan
diri dari akhlak yang tercela dan perbuatan maksiat melalui tobat, selanjutnya.
2. Tahalli yaitu menghiasi
diri dengan akhlak yang mulia dan amal ibadah.
3. Tajalli adalah terbukanya
hijab sehingga tampak jelas cahaya Tuhan. Dengan limpahan cahaya Tuhan itulah
manusia dapat mengetahui rahasia-rahasia Tuhan.
Dengan demikian ia dapat mengetahui
apa-apa yang tidak bisa diketahui manusia biasa. Orang yang sudah mencapai
ma’rifat akan memperoleh hubungan langsung dengan Allaahh.
V.Manfa-at dari Ma’rifat
Semua yang ada di alam ini mutlak ada dalam kekuasa-an Allaahh. Ketika melihat fenomena alam, idealnya kita bisa ingat kepada Allaahh. Puncak ilmu adalah mengenal Allaahh (ma’rifatullaahh). Kita dikatakan sukses dalam belajar bila dengan belajar itu kita semakin mengenal Allaahh. Jadi percuma saja sekolah tinggi, luas pengetahuan, gelar prestisius, bila semua itu tidak menjadikan kita makin mengenal Allaahh.
Mengenal Allaahh adalah aset terbesar. Mengenal Allaahh akan membuahkan akhlak mulia. Betapa tidak, dengan mengenal Allaahh kita akan merasa ditatap, didengar, dan diperhatikan selalu. Inilah kenikmatan hidup sebenarnya. Bila demikian, hidup pun jadi ter-arah, tenang, ringan, dan bahagia. Sebaliknya, sa-at kita tidak mengenal Allaahh, hidup kita akan sengsara, terjerumus pada maksiat, tidak tenang dalam hidup, dan sebagainya.
Ciri orang yang ma’rifat adalah laa khaufun ‘alayhhim wa lahum yahzanuun. Ia tidak takut dan sedih dengan urusan duniawi. Karena itu, kualitas ma’rifat kita dapat diukur. Bila kita selalu cemas dan takut kehilangan dunia, itu tandanya kita belum ma’rifat. Sebab, orang yang ma’rifat itu susah senangnya tidak diukur dari ada tidaknya dunia. Susah dan senangnya diukur dari dekat tidaknya ia dengan Allaahh. Maka, kita harus mulai bertanya bagaimana agar setiap aktivitas bisa membuat kita semakin kenal, dekat dan ta-at kepada Allaahh.
Salah satu ciri orang ma’rifat adalah selalu menjaga kualitas ibadahnya. Terjaganya ibadah akan mendatangkan tujuh keuntungan hidup:
Semua yang ada di alam ini mutlak ada dalam kekuasa-an Allaahh. Ketika melihat fenomena alam, idealnya kita bisa ingat kepada Allaahh. Puncak ilmu adalah mengenal Allaahh (ma’rifatullaahh). Kita dikatakan sukses dalam belajar bila dengan belajar itu kita semakin mengenal Allaahh. Jadi percuma saja sekolah tinggi, luas pengetahuan, gelar prestisius, bila semua itu tidak menjadikan kita makin mengenal Allaahh.
Mengenal Allaahh adalah aset terbesar. Mengenal Allaahh akan membuahkan akhlak mulia. Betapa tidak, dengan mengenal Allaahh kita akan merasa ditatap, didengar, dan diperhatikan selalu. Inilah kenikmatan hidup sebenarnya. Bila demikian, hidup pun jadi ter-arah, tenang, ringan, dan bahagia. Sebaliknya, sa-at kita tidak mengenal Allaahh, hidup kita akan sengsara, terjerumus pada maksiat, tidak tenang dalam hidup, dan sebagainya.
Ciri orang yang ma’rifat adalah laa khaufun ‘alayhhim wa lahum yahzanuun. Ia tidak takut dan sedih dengan urusan duniawi. Karena itu, kualitas ma’rifat kita dapat diukur. Bila kita selalu cemas dan takut kehilangan dunia, itu tandanya kita belum ma’rifat. Sebab, orang yang ma’rifat itu susah senangnya tidak diukur dari ada tidaknya dunia. Susah dan senangnya diukur dari dekat tidaknya ia dengan Allaahh. Maka, kita harus mulai bertanya bagaimana agar setiap aktivitas bisa membuat kita semakin kenal, dekat dan ta-at kepada Allaahh.
Salah satu ciri orang ma’rifat adalah selalu menjaga kualitas ibadahnya. Terjaganya ibadah akan mendatangkan tujuh keuntungan hidup:
· Pertama, Hidup selalu berada
di jalan yang benar.
· Kedua, memiliki kekuatan
menghadapi coba-an hidup. Kekuatan tersebut lahir dari terjaganya keimanan.
· Ketiga, Allaahh akan
mengaruniakan ketenangan dalam hidup. Tenang itu mahal harganya.Ketenangan
tidak bisa dibeli dan ia pun tidak bisa dicuri. Apa pun yang kita miliki, tidak
akan pernah ternikmati bila kita selalu resah gelisah.
· Ke-empat, seorang ahhli
ibadah akan selalu optimis. Ia optimis karena Allaahh akan menolong dan
mengarahkan kehidupannya. Sikap optimis akan menggerakkan seseorang untuk
berbuat. Optimisakan melahirkan harapan. Tidak berarti kekuatan fisik,
kekayaan, gelar atau jabatan bila kita tidak memiliki harapan.
· Kelima, seorang ahli ibadah
memiliki kendali dalam hidupnya, bagaikan rem pakem dalam kendara-an. Setiap
kali akan melakukan maksiat, Allaahh SWT akan memberi peringatan agar ia
tidak terjerumus. Seorang ahhli ibadah akan memiliki kemampuan untuk
bertobat.
· Ke-enam, selalu ada dalam
bimbingan dan pertolongan Allaahh. Bila pada poin pertama Allaahh
sudah menunjukkan jalan yang tepat, maka pada poin ini kita akan dituntun untuk
melewati jalan tersebut.
· Ketujuh, seorang ahhli
ibadah akan memiliki kekuatan ruhiyah, tak heran bila kata-katanya bertenaga,
penuh hikmah, berwibawa dan setiap keputusan yang diambilnya selalu tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar