ARTI DAN MAKNA HAQEQAT
Bermula dari pada ma’na yang sebenarnya haqiqat
yang berarti “kebenaran” atau “kenyatan asal”
atau “yang sebenar-benarnya”. Maka bahwa keempat akan ilmu
seperti : Syariat, Thariqat, Haqiqat, dan Ma’rifat.
Tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya karena syariat itu terpilin
atau terjalin akan haqiqat dan haqiqat itu terjalin atas syariat.
Kebenaran dalam hidup dan kehidupan, inilah yang dicari
dan ini pula yang dituju. Haqiqat dunia, haqiqat isi dunia dan haqiqat diri
yang mengatahui akan kedua itu sesungguhnya dikarenakan rahmat Allaahh Ta’ala, yang
menjadikan akan manusia sebagai fitrah kekhalifahan. Maka dari pada itu
syariat untuk mewujudkan akan amal dan haqiqat mewujudkan
ihwal. Syariat ditujukan kepada manusia untuk melaksanakan ibadah
serta sampai kepadanya akan amar dan
nahi adalah untuk menjelaskan kecintaan dan mendirikan keterangan hukun
dan nyatanya. Sedangkan haqiqat pelaksanaannya dalam khuluk dan
iradaht, hasilnya akan diperoleh mereka yang terpilih daripada hamba-Nya
yang dicintai oleh Allaahh Ta’ala. Maka thariqat adalah latihan untuk
menempatkan diri setingkat demi setingkat lebih tinggi dan lebih dekat
kepada Allaahh Ta’ala.
Perbedaan
thriqat dan haqiqat tiada adanya, bahkan sambung-menyambung antara satu sama lainnya.
Dan kebenaran
itu bukan hanya terlatak akan aqal pikiran dan hati tetapi juga pada
rasa, yakni “rasa jasmani” yang dapat dirasakan dengan rasa
pahit, manis, asam, asin dan sebagainya. Ada yang disebut
rasa-ruhani yang dapat merasakan gembira, sedih, bingung, kecewa, ceria dan
sebagainya. Dan terdapat pula pada diri manusia yang disebut rasa nurani rasa
yang penuh cahaya “rahmatan lil’alaamin”, karunia Allaahh Ta’ala atas
segala keshalihan dan ketekunan didalam ketaatannya kepada Allaahh. Dalam karunia Allaahh ini Para
Arif Billaahh menyebutkannya dengan istilah :
“Amrun
dzauqy” Yaitu, urusan yang paling dalam, lepas dari segala
isyarat dan ‘itibar lalu dengan penuh kerendahan hati berkata kepada atas
rahmat Allaahh Ta’ala.
“Man lam yadzuq
lam yadri”. “Siapa tidak merasa tidak akan mengetahui”.
“Mayyakhruju
baina-syafatain illa isyarat wal ‘itibar”
“Apa yang keluar dari dua bibir adalah hanya sekedar isyarat dan ‘itibar”.
“Apa yang keluar dari dua bibir adalah hanya sekedar isyarat dan ‘itibar”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar