Pengertian Ma’rifat
Dari segi bahasa Ma’rifat berasal
dari kata arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifat yang artinya pengetahuan dan
pengalaman.
· Dan dapat pula berarti
pengetahuan tentang rahasia haqiqat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi dari
pada ilmu yang bisa didapati oleh orang-orang pada umumnya.
· Ma’rifat adalah pengetahuan
yang objeknya bukan pada hal-hal yang bershifat dhahir, tetapi lebih mendalam
bathinnya dengan mengetahui rahasianya.
· Hal ini didasarkan pada
pandangan bahwa akal manusia sanggup mengetahui haqiqat ketuhanan dan haqiqat
itu satu dan segala yang maujud berasal dari yang satu.
· Selanjutnya ma’rifat
digunakan untuk menunjukkan pada salah satu tingkatan dalam tashawwuf.
· Ma’rifat muncul seiring
dengan adanya istilah tashawwuf, dimana dalam Tashawwuf (dalam hal ini para shufi)
berusaha melakukan pendekatan dan pengenalan kepada Allaahh untuk
mencapai tingkat ma’rifatullaahh yang tinggi. Disa-at itulah mulai
dikenal istilah Ma’rifat.
Agar tidak terjadi kesalahan persepsi atas ma’rifat, ada baiknya kita mendalami kata ini secara komprehensif menurut pandangan dari shufi pertama yang berbicara tentang ma’rifat yang spesifik tentang tashawwuf yaitu “Ma’rifat Shufistik pada hakekatnya adalah ‘irfan/‘arifiin.
Agar tidak terjadi kesalahan persepsi atas ma’rifat, ada baiknya kita mendalami kata ini secara komprehensif menurut pandangan dari shufi pertama yang berbicara tentang ma’rifat yang spesifik tentang tashawwuf yaitu “Ma’rifat Shufistik pada hakekatnya adalah ‘irfan/‘arifiin.
· Tujuan ma’rifat menurut
tuntutan-nya berhubungan dengan Allaahh, musyahadat terhadap wajah Allaahh
dengan kendalinya jiwa basyariyahh kepada eksistensinya yang intern,
wasilahnya dan mujahadahh olah spiritual.
· Ma’rifat datang ke hati
dalam bentuk kasyf dan Ilham.
· Dalam arti Shufistik,
ma’rifat diartikan sebagai pengetahuan mengenai tuhan melalui hati sanubari.
Pengetahuan ini lengkap dan jelas sehingga jiwa merasa satu dengan Allaahh.
· Ma’rifat menggambarkan
hubungan rapat dalam bentuk gnosis, pengetahuan dengan sanubari. Dalam artian
mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati-sanubari dapat melihat Tuhan. Oleh
karena itu orang-orang shufi mengatakan:
1. Kalau mata yang terdapat
dalam hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup dan ketika
itu yang dilihatnya hanyalah Allaahh.
2. Ma’rifat adalah cermin,
kalau seorang yang ‘arif melihat ke cermin maka yang dilihatnya hanyalah Allaahh.
3. Yang dilihat orang ‘arif
sa-at tidur dan bangun hanyalah Allaahh.
4. Sekiranya Ma’rifat
mengambil bentuk materi, semua orang yangmelihatnya akan mati karena tak tahan
melihat kecantikan danbentuk keindahannya, dan semua cahaya akan menjadi gelap
disamping cahaya keindahan yang gilang gemilang.
Dari beberapa definisi di atas dapat
kita fahami bahwa ma’rifat adalah mengetahui rahasia-rahasia Allaahh
dengan hati sanubari. Tujuan yang ingin dicapai ma’rifat adalah mengetahui
rahasia-rahasia yang terdapat dalam diri Tuhan.
Sebagaimana dikemukakan al-Kalazabi, ma’rifat datang sesudah mahabbah, hal ini disebabkan karena ma’rifat lebih mengacu pada pengetahuan sedangkan mahabbah menggambarkan kecinta-an.
Ma’rifat dalam arti harfiyahh adalahPengenalan seorang Hamba terhadap Tuhannya, dalam hal ini adalah Allaahh, karena tujuan utama dari seorang hamba adalah mengenal Tuhannya dengan baik dan berusaha mencintaiNya.
Dalam kitab Al-Mahabbah, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa cinta kepada Allaahh adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki derajat yang tinggi. “(Allaahh) mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya.” (QS. Al Maa-idah: 54):
Sebagaimana dikemukakan al-Kalazabi, ma’rifat datang sesudah mahabbah, hal ini disebabkan karena ma’rifat lebih mengacu pada pengetahuan sedangkan mahabbah menggambarkan kecinta-an.
Ma’rifat dalam arti harfiyahh adalahPengenalan seorang Hamba terhadap Tuhannya, dalam hal ini adalah Allaahh, karena tujuan utama dari seorang hamba adalah mengenal Tuhannya dengan baik dan berusaha mencintaiNya.
Dalam kitab Al-Mahabbah, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa cinta kepada Allaahh adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki derajat yang tinggi. “(Allaahh) mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya.” (QS. Al Maa-idah: 54):
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman,
barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allaahh
akan mendatangkan suatu kaum yang Allaahh mencintai mereka dan merekapun
mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allaahh,
dan yang tidak takut kepada cela-an orang yang suka mencela. Itulah karunia
Allaahh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allaahh
Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.
Dalam tashawwuf, setelah di raihnya
maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah
itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti shabar, taubat, zuhud, dan
lain- lain nantinya akan berujung pada mahabatullaahh (cinta kepada
Allaahh). Ma’rifat kepada Allaahh adalah puncak tujuan seseorang
hamba. Maka apabila Tuhan telah membukakan bagimu suatu jalan untuk mengenal kepada-Nya,
tidak usahlah kau hiraukan berapa banyak amal perbuatanmum, meskipun masih
sangat sedikit amal kebaikanmu sekalipun. Sebab ma’rifat merupakan suatu
karunia pemberian langsung dari Allaahh, maka ia sekali-kali tidak
bergantung pada banyak atau sedikitnya amal kebaikan.
Fitrahh manusia mengenal Allaahh, baik dalam pengertian ‘aam (umum) maupun dalam arti khusuh (khusus). Yang dimaksud mengenal Allaahh dalam pengertian umum ialah pengenalan iman kepada Allaahh, sebagaimana yang dikaji dalam ‘aqaidul iman yang sangat mendasar. Itulah ilmu tauhid yang disebut sebagai inti agama. Atau pokok dari segala yang pokok. Dengan kata lain, tauhid merupakan keyakinan yang paling dasar untuk diajarkan kepada setiap manusia sebelum lebih jauh menjalar pada aspek-aspek lain dalam agama.
Adapun yang dimaksud pengenalan secara khusus ialah mengenal Allaahh dalam arti Ma’rifatullaahh (melihat Allaahh) dengan matahati. Maka ia melihat:
Fitrahh manusia mengenal Allaahh, baik dalam pengertian ‘aam (umum) maupun dalam arti khusuh (khusus). Yang dimaksud mengenal Allaahh dalam pengertian umum ialah pengenalan iman kepada Allaahh, sebagaimana yang dikaji dalam ‘aqaidul iman yang sangat mendasar. Itulah ilmu tauhid yang disebut sebagai inti agama. Atau pokok dari segala yang pokok. Dengan kata lain, tauhid merupakan keyakinan yang paling dasar untuk diajarkan kepada setiap manusia sebelum lebih jauh menjalar pada aspek-aspek lain dalam agama.
Adapun yang dimaksud pengenalan secara khusus ialah mengenal Allaahh dalam arti Ma’rifatullaahh (melihat Allaahh) dengan matahati. Maka ia melihat:
· Tak ada perbuatan yang
bertebaran di alam ini , kecuali perbuatan Allaahh.
· Tak ada nama yang melekat
pada suatu apapun, melainkan nama Allaahh.
· Takada shifat yang mewarnai
diri, kecuali shifat Allaahh.
· Tak ada dzat yang meliputi
makhluk, melainkan Dzat Allaahh”.
Anugrah Allaahh kepada hamba
yang dikasihiNya merupakan cermin ma’rifat yang haqeqi kepadaNya. Sebab bagi
orang yang tak dapat anugerah Allaahh, yang mengenal Tuhan mereka
menurut versi angan khayal mereka. Seperti Fir’aun yang menuhankan dirinya,
Namrud menuhankan patung batu (arca) dan di zaman kini banyak orang yang
menuhankan sesuatu selain Allaahh, seperti menuhankan kekuatan alam dan
teknologi. Mereka itu sebagai contoh orang yang tidak mendapat anugerah
ma’rifat dari Allaahh.
Jika Allaahh telah menunjukkan kepada hambaNya dengan sebagian sebab-sebab sehingga ia menjadi orang yang ma’rifat, kemudian kepadanya dibukakan pintu kema’rifatan yang tetap (sakinahh) sehingga ia mendapat ketenangan yang luar biasa. Dan ini merupakan nikmat yang paling besar.
Apabila kita dibukakan pintu ma’rifat yang haqiqi maka janganlah kita hiraukan amalmu yang sedikit. Sebab di atas telah diterangkan bahwa ma’rifat itu adalah anugerah dari Allaahh yang datangnya tidak menggantungkan akan banyak atau sedikitnya amal kebaikan.
Ma’rifat adalah anugerah Allaahh yang didasari kasih Tuhan kepada hambaNya.
Jika Allaahh telah menunjukkan kepada hambaNya dengan sebagian sebab-sebab sehingga ia menjadi orang yang ma’rifat, kemudian kepadanya dibukakan pintu kema’rifatan yang tetap (sakinahh) sehingga ia mendapat ketenangan yang luar biasa. Dan ini merupakan nikmat yang paling besar.
Apabila kita dibukakan pintu ma’rifat yang haqiqi maka janganlah kita hiraukan amalmu yang sedikit. Sebab di atas telah diterangkan bahwa ma’rifat itu adalah anugerah dari Allaahh yang datangnya tidak menggantungkan akan banyak atau sedikitnya amal kebaikan.
Ma’rifat adalah anugerah Allaahh yang didasari kasih Tuhan kepada hambaNya.
Adapun amal ibadah sebagai
persembahan hamba kepada Tuhannya. Diumpamakan anugerah itu seperti
martabat seorang budak yang diangkat oleh raja menjadi perdana menteri. Adapun
amal ibadah seumpama upeti rakyat kepada rajanya. Maka betapa sangat jauh
perbeda-an antara keduanya.
Sesungguhnya maksud dan tujuan kebanyakan manusia memperbanyak amal kebaikan itu adalah agar mereka dapat mendekatkan (Taqarrub) dirinya kepada Allaahh dengan amal itu. Tetapi perlu disadari bahwa itu tidak akan berubah maksudnya karena banyak atau sedikitnya amal seorang hamba.
Dalam hal ini dapat dimisalkan seperti orang yang sedang menderita sakit, disebabkan penyakit yang dideritanya maka menjadi berkuranglah ibadahnya kepada Allaahh. Boleh jadi penyakit yang dideritanya itu sebagai sebab dan isyarat terbukanya pintu kema’rifatan kepada Allaahh.
Oleh sebab itu jangan mempunyai perasa-an banyaknya amal ibadah yang tertinggal disebabkan sakit. Dengan sakit yang dideritanya itu bisa merasa dekat dengan Allaahh. Perasa-an lapang dada, luas hatinya dan telah meninggalkan berbagai kenikmatan dunia seraya di-iringi oleh rasa cinta negeri akhirat. Juga telah siap untuk meninggalkan dunia yang fana sebelum kematian itu datang. Ini juga sebagai pertanda orang yang telah mendapatkan Nur Ilaahhi atau anugerah Allaahh. Kesadarannya bahwa Allaahh bisa berbuat apa saja menurut kehendaknya, sebagai tanda kearifannya.
Sesungguhnya maksud dan tujuan kebanyakan manusia memperbanyak amal kebaikan itu adalah agar mereka dapat mendekatkan (Taqarrub) dirinya kepada Allaahh dengan amal itu. Tetapi perlu disadari bahwa itu tidak akan berubah maksudnya karena banyak atau sedikitnya amal seorang hamba.
Dalam hal ini dapat dimisalkan seperti orang yang sedang menderita sakit, disebabkan penyakit yang dideritanya maka menjadi berkuranglah ibadahnya kepada Allaahh. Boleh jadi penyakit yang dideritanya itu sebagai sebab dan isyarat terbukanya pintu kema’rifatan kepada Allaahh.
Oleh sebab itu jangan mempunyai perasa-an banyaknya amal ibadah yang tertinggal disebabkan sakit. Dengan sakit yang dideritanya itu bisa merasa dekat dengan Allaahh. Perasa-an lapang dada, luas hatinya dan telah meninggalkan berbagai kenikmatan dunia seraya di-iringi oleh rasa cinta negeri akhirat. Juga telah siap untuk meninggalkan dunia yang fana sebelum kematian itu datang. Ini juga sebagai pertanda orang yang telah mendapatkan Nur Ilaahhi atau anugerah Allaahh. Kesadarannya bahwa Allaahh bisa berbuat apa saja menurut kehendaknya, sebagai tanda kearifannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar