KEISTIMEWAAN DAN FAIDAHH
TAUHID
Seseorang yang bertauhid berarti
akan mendapat keistimewa-an dari sisi Allaahh dan akan dihapus segala
dosanya, sebab orang yang bertauhuid diantaranya akan:
1.BERIMAN.
Iman ialah: ucapan hati dan lisan
yang disertai dengan perbuatan, yang di iringi dengan ketulusan hati dan
dilandasi dan berpegang teguh pada Al Qur-an dan Sunahh Rasulullaahh
shalallaahhu a’layhhiwas-salam.
Firman Allaahh.
Aladziina aamanuu walam
yalbisuu iimaanahhum bidhulmin ulaa-ika lahhumul-amnu
wahhum muhhtaduun.
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuraduk-kan
iman mereka dengan kedhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan
dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
2.BERSYAHADAT.
BerSyahadat ialah:persaksian dengan
hati dan lisan, dengan mengerti maknanya dan mengamalkan apa yang menjadi
tuntutan-nya, baik lahir maupun bathin.
‘Ubadah bin Ash-Shamit radliyallahhu
anhhu, menuturkan. Rasulullahh SAW bersabda:
“Man syahida an-laailahha
illallahh wahdahhu laa syarika lahhu wa an-na Muhammadan ‘abduhhu
warasuuluhhu, wa-anna I’sa ‘abdullahhi warasuuluhhu
wakalimatahhu alqaahhaa ilaa Maryama waruuhu minhhu
waljan-nata haqqun adkhalahhullaahhul janata ‘alaa maa
kaana minal ’amali”.
”Barang siapa bersyahadat bahwa
tiada sembahan yang hak selain Allaahh saja, tiada sekutu bagiNya dan
Muhammad adalah hamba dan RasulNya, dan bersyahadat bahwa Isa hamba Allaahh,
rasulNya, dan kalimatNya,yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh dari
padaNya, dan (bersyahadat pula bahwa) Surga adalah benar ada nya dan nerakapun
benar adanya, maka Allaahh pasti memasukkan kedalamnya betapapun amal
yang telah di perbuatnya”.(Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).
“Fainna haraman a’laan-naarin man
qaala LAA ILAAHHA ILLAALLAHH yabtaghii bidzaalika Wajhhallaahh”.
“Sesungguhnya Allaahh
mengharamkan kepada neraka orang yang berkata LAA ILAHHA ILLALLAHH
(tiada sembahan yang hak selain Allaahh), dengan ikhlash dari hatinya
dan mengharapkan (pahala melihat) Wajahh Allaahh”.
“Qaala Musa: yaa Rabba ‘allamnii
syay-an adzkuruka wa adu’ka bihhii,Qaala: (Qul yaa Musa Laa ilaahha
Illallahh), Qaala: yaa Rabba kullu I’badika yaquuluuna hhaadzaa,
Qaala;(yaa Muusaa lao annas-samaawaatis-sab’a wa aa’ mirahhunna ghayrii
wal ardliinas-sab’a fii kaffatin wa Laa Ilaahha Illallaahh fii
kaffatin maalat bihhinna Laa Ilaahha Illallaahh) ruwaahhu
Ibnu Hibban walhakim wash-shahih.
“Musa berkata: yaa Tuhanku,
ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk berdzikir dan berdo’a kepada-Mu. Allaahh
berfirman: Hay Musa, andai kata ketujuh langit dan penghuni-nya, selain Aku,
serta ketujuh bumi diletakan pada salah satu daun timbangan, sedang LAA ILAAHHA
ILLALLAAHH di letakan pada daun timbangan yang lain, maka LAA
ILAAHHA ILLALLAHH niscaya lebih berat timbangan”.(HR Ibnu
Hibban dan Al-Hakim dengan menyatakan Hadits ini adalah shahih.
“Qaalallaahhuta ’alaa Yaa
Abna aadam,law atay tanii biquraabil-ardli khathaayaa tsuma laqiitanii laa
tusyrika bii syay-an ataytuka biquraabihha maghfiratan.”
“Allaahh ta’alaa berfirman:
Hay anak Adam, seandainya kamu datang kepadaKu dengan dosa sepenuh
jagad,sedangkan kamu ketika mati tidak dalam keada-an syirik sedikitpun
kepadaKu, Niscaya akan Aku berikan ampunan sebesar jagat pula”.
Kesimpulan-nya: dari dalil-dalil
diatas ialah:
vAllaahh maha luas
karuniaNya.
vBanyaknya pahala tauhid disisi
Allaahh
vTauhid dapat menghapuskan
dosa-dosa.
vBahwa “Laa Illahha
Illaallahh” lebih berat timbanganya mengungguli berat timbangan
mahluk-mahluk.
vMengetahui kebenaran adanya wajah
bagi Allaahh ta’alaa.
3.BERAGAMA/BERPENGABDIAN
Beragama ialah menjalankan
keyakinanya sebagai perwujudan dari kepercaya-an-nya, yang diwujudkan dalam
sebuah pengabdian.
Waminan-naasi man yattakhiduzu
minduunillaahhi andadaan yuhibunahhum kahubbillaahh
walladziina aaamanuu asyaddu hubballillaahh.
Artinya:
Dan diantara manusia ada orang-orang
yang menyembah tandingan selain Allaahh, yaitu dengan mencintai-nya
sebagaimana mereka mencintai Allaahh.Adapun orang-orang yang
beriman amat sangat cintanya kepada Allaahh.
Diriwayat kan dalam Shahih (Muslim),
bahwa Nabi Shalalllaahhu A’layhhi wassalam bersabda:
”Man qaala:LAA ILAAHHA
ILLALLAHH dan mengingkari sesembahan selain Allaahh,
haramlah harta dan darahnya,sedang hisab (perhitungan)-nya, adalah terserah
kepada Allaahh ‘Azaa wa zalla”.
Firman Allaahh dalam Al
Qur-an (surat Az-Zukhruf:26-27):
Waidqaala Ibraahhiimuliabiihhi
waqawmihhi in-nanii baraauum-mim-maa ‘tabuduuna
illaalladzii fatharanii fainnahhu sayahhdiini .
Artinya:
Dan ingatlah ketika Ibrahim Berkata
kepada bapaknya)*dan kaumnya: "Sesungguhnya Aku tidak bertanggung jawab
terhadap apa yang kamu sembah)*,
Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang
menjadikanku; Karena Sesungguhnya dia akan memberi hidayah kepadaku".
)* di antara Mufassirin ada yang
berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Abiihhi (bapaknya) ialah
paman-nya.
)*Maksudnya: nabi Ibrahim a.s. tidak
menyembah berhala-berhala yang disembah kaumnya.
Nabi Muhammad Rasulullaahh
Shalallaahhu ‘Alayhhi Wassalam, beliau dan para nabi-nabi
terdahulu mengecualikan Allaahh dari segala sembahan. Pembebasan diri
(dari semua yang bathil) dan pernyataan setia (kepada sembahan yang Hak yaitu
Allaahh) adalah tafsiran yang sebenarnya dari syahadat “LAA ILAHHA
ILLALLAHH”.
Allaahh Subhaanahuwata’alaa
berfirman dalam (Al Qur-an surat Az-Zukhruf ayat 28):
Waja’alahhaa kalimata
baaqiyatan fii ‘aqibihhi la’alahum yarji’uun.
Artinya:
Dan (lbrahim a. s.) menjadikan
kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali
kepada kalimat tauhid)* itu.
Maksudnya: nabi Ibrahim a.s.
menjadikan kalimat tauhid sebagai pegangan bagi keturunan-nya sehingga kalau
terdapat di antara mereka yang mempersekutukan Tuhan agar mereka kembali kepada
tauhid itu.
Di sini menjelaskan betapa
pentingnya memberikan pengertian tentang “LAA ILAHHA ILLALLAAHH”.
Sebab, apa yang dijadikan Rasulullaahh sebagai pelindung darah dan harta
bukanlah sekedar mengucapkan kalimat “LAA ILAHHA ILLALLAAHH”
itu, bukan pula dengan mengerti makna dan lapadhnya, bukan pula dengan mengakui
kebenaran dari kalimat tersebut, bahkan bukan juga karena tidak meminta kecuali
kepada allaahh saja, yang tiada sekutu bagiNya.Akan tetapi, tidaklah
haram dan terlindung harta dan darah nya hingga dia memudahkan kepada
pengucapan kalimat “LAA ILAHHA ILLALLAHH” itu pengingkaran
kepada semua sembahan selain Allaahh. Jika seorang muslim masih ragu
atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung harta dan darahnya.
Betapa penting-nya tafsiran tauhid
dan syahadat ini di baca dan dipelajari oleh penganut tauhid itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar