Selasa, 29 Maret 2016

KEISTIMEWAAN TAUHID


KEISTIMEWAAN DAN FAIDAHH TAUHID
Seseorang yang bertauhid berarti akan mendapat keistimewa-an dari sisi Allaahh dan akan dihapus segala dosanya, sebab orang yang bertauhuid  diantaranya akan:
1.BERIMAN.
Iman ialah: ucapan hati dan lisan yang disertai dengan perbuatan, yang di iringi dengan ketulusan hati dan dilandasi dan berpegang teguh pada  Al Qur-an dan Sunahh Rasulullaahh shalallaahhu a’layhhiwas-salam.
Firman Allaahh.
Aladziina aamanuu walam yalbisuu iimaanahhum bidhulmin ulaa-ika lahhumul-amnu wahhum muhhtaduun.
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuraduk-kan iman mereka dengan kedhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
2.BERSYAHADAT.
BerSyahadat ialah:persaksian dengan hati dan lisan, dengan mengerti maknanya dan mengamalkan apa yang menjadi tuntutan-nya, baik lahir maupun bathin.
‘Ubadah bin Ash-Shamit radliyallahhu anhhu, menuturkan. Rasulullahh SAW bersabda:
“Man syahida an-laailahha illallahh wahdahhu laa syarika lahhu wa an-na Muhammadan ‘abduhhu warasuuluhhu, wa-anna I’sa ‘abdullahhi warasuuluhhu wakalimatahhu alqaahhaa ilaa Maryama waruuhu minhhu waljan-nata haqqun adkhalahhullaahhul janata  ‘alaa maa kaana minal ’amali”.
”Barang siapa bersyahadat bahwa tiada sembahan yang hak selain Allaahh saja, tiada sekutu bagiNya dan Muhammad adalah hamba dan RasulNya, dan bersyahadat bahwa Isa hamba Allaahh, rasulNya, dan kalimatNya,yang disampaikan-Nya kepada Maryam serta ruh dari padaNya, dan (bersyahadat pula bahwa) Surga adalah benar ada nya dan nerakapun benar adanya, maka Allaahh pasti memasukkan kedalamnya betapapun amal yang telah di perbuatnya”.(Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).
“Fainna haraman a’laan-naarin man qaala LAA ILAAHHA ILLAALLAHH yabtaghii bidzaalika Wajhhallaahh”.
“Sesungguhnya Allaahh mengharamkan kepada neraka orang yang berkata LAA ILAHHA ILLALLAHH (tiada sembahan yang hak selain Allaahh), dengan ikhlash dari hatinya dan mengharapkan (pahala melihat) Wajahh Allaahh”.
“Qaala Musa: yaa Rabba ‘allamnii syay-an adzkuruka wa adu’ka bihhii,Qaala: (Qul yaa Musa Laa ilaahha Illallahh), Qaala: yaa Rabba kullu I’badika yaquuluuna hhaadzaa, Qaala;(yaa Muusaa lao annas-samaawaatis-sab’a wa aa’ mirahhunna ghayrii wal ardliinas-sab’a fii kaffatin wa Laa Ilaahha Illallaahh fii kaffatin maalat bihhinna Laa Ilaahha Illallaahh) ruwaahhu Ibnu Hibban walhakim wash-shahih.
“Musa berkata: yaa Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk berdzikir dan berdo’a kepada-Mu. Allaahh berfirman: Hay Musa, andai kata ketujuh langit dan penghuni-nya, selain Aku, serta ketujuh bumi diletakan pada salah satu daun timbangan, sedang LAA ILAAHHA ILLALLAAHH di letakan pada daun timbangan yang lain, maka LAA ILAAHHA ILLALLAHH niscaya lebih berat timbangan”.(HR Ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan menyatakan  Hadits ini adalah shahih.
“Qaalallaahhuta ’alaa Yaa Abna aadam,law atay tanii biquraabil-ardli khathaayaa tsuma laqiitanii laa tusyrika bii syay-an ataytuka biquraabihha maghfiratan.”
“Allaahh ta’alaa berfirman: Hay anak Adam, seandainya kamu datang kepadaKu dengan dosa sepenuh jagad,sedangkan kamu ketika mati tidak dalam keada-an syirik sedikitpun kepadaKu, Niscaya akan Aku berikan ampunan sebesar jagat pula”.
Kesimpulan-nya: dari dalil-dalil diatas ialah:
vAllaahh maha luas karuniaNya.
vBanyaknya pahala tauhid disisi Allaahh
vTauhid dapat menghapuskan dosa-dosa.
vBahwa “Laa Illahha Illaallahh” lebih berat timbanganya mengungguli berat timbangan mahluk-mahluk.
vMengetahui kebenaran adanya wajah bagi Allaahh ta’alaa.
3.BERAGAMA/BERPENGABDIAN
Beragama ialah menjalankan keyakinanya sebagai perwujudan dari kepercaya-an-nya, yang diwujudkan dalam sebuah pengabdian.
Waminan-naasi man yattakhiduzu minduunillaahhi andadaan yuhibunahhum kahubbillaahh walladziina aaamanuu asyaddu hubballillaahh.
Artinya:
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan selain Allaahh, yaitu dengan mencintai-nya sebagaimana mereka mencintai Allaahh.Adapun  orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allaahh.
Diriwayat kan dalam Shahih (Muslim), bahwa Nabi Shalalllaahhu A’layhhi wassalam bersabda:
”Man qaala:LAA ILAAHHA ILLALLAHH  dan mengingkari sesembahan selain Allaahh, haramlah harta dan darahnya,sedang hisab (perhitungan)-nya, adalah terserah kepada Allaahh ‘Azaa wa zalla”.
Firman Allaahh dalam Al Qur-an (surat Az-Zukhruf:26-27):
Waidqaala Ibraahhiimuliabiihhi waqawmihhi in-nanii baraauum-mim-maa ‘tabuduuna illaalladzii  fatharanii fainnahhu sayahhdiini .
Artinya:
Dan ingatlah ketika Ibrahim Berkata kepada bapaknya)*dan kaumnya: "Sesungguhnya Aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah)*,
Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; Karena Sesungguhnya dia akan memberi hidayah kepadaku".
)* di antara Mufassirin ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Abiihhi (bapaknya) ialah paman-nya.
)*Maksudnya: nabi Ibrahim a.s. tidak menyembah berhala-berhala yang disembah kaumnya.
Nabi Muhammad Rasulullaahh Shalallaahhu  ‘Alayhhi Wassalam, beliau dan para nabi-nabi terdahulu mengecualikan Allaahh dari segala sembahan. Pembebasan diri (dari semua yang bathil) dan pernyataan setia (kepada sembahan yang Hak yaitu Allaahh) adalah tafsiran yang sebenarnya dari syahadat “LAA ILAHHA ILLALLAHH”.
Allaahh Subhaanahuwata’alaa berfirman dalam (Al Qur-an surat Az-Zukhruf ayat 28):
Waja’alahhaa kalimata baaqiyatan fii ‘aqibihhi la’alahum yarji’uun.
Artinya:
Dan (lbrahim a. s.) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid)* itu.
Maksudnya: nabi Ibrahim a.s. menjadikan kalimat tauhid sebagai pegangan bagi keturunan-nya sehingga kalau terdapat di antara mereka yang mempersekutukan Tuhan agar mereka kembali kepada tauhid itu.
Di sini menjelaskan betapa pentingnya memberikan pengertian tentang “LAA ILAHHA ILLALLAAHH. Sebab, apa yang dijadikan Rasulullaahh sebagai pelindung darah dan harta bukanlah sekedar mengucapkan kalimat “LAA ILAHHA ILLALLAAHH” itu, bukan pula dengan mengerti makna dan lapadhnya, bukan pula dengan mengakui kebenaran dari kalimat tersebut, bahkan bukan juga karena tidak meminta kecuali kepada allaahh saja, yang tiada sekutu bagiNya.Akan tetapi, tidaklah haram dan terlindung harta dan darah nya hingga dia memudahkan kepada pengucapan kalimat “LAA ILAHHA ILLALLAHH” itu pengingkaran kepada semua sembahan selain Allaahh. Jika seorang muslim masih ragu atau bimbang, maka belumlah haram dan terlindung  harta dan darahnya.
Betapa penting-nya tafsiran tauhid dan syahadat ini di baca dan dipelajari oleh penganut tauhid itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar