KONSEKWENSI DAN PENGERTIAN TAUHID
Ilmu tauhid ialah: suatu ilmu yang
mempelajari tentang ketuhanan, dimana seseorang beriman /mempercayai adanya
Tuhan,maka orang tersebut haruslah mengetahui secara detail bahwa Tuhan itu
benar-benar ada.
Adanya Tuhan haruslah jelas dengan
hasil pemikiran serta pengamatan yang mutlak adanya, jangan katanya dan
katanya. Suatu contoh; “ada seseorang membawa segelas air dia bilang bahwa yang
dibawa nya itu adalah air kelapa muda yang sangat lah manis dan lezat rasa-nya,
tentu bagi seseorang yang lagi haus akan terangsang ingin sekali meminumnya.
Nah disini kita mesti hati-hati jangan langsung menegaknya sebelum
meyakinkan dulu bahwa air tersebut betul-betul air kelapa atau bukan?, sudah
jadi barang tentu bahwa untuk meyakinkan nya kita harus
memeriksanya/menyelidikinya terlebih dahulu. Kalau suda jelas bahwa itu
betul-betul air kelapa, baru kita boleh meminumnya bahkan untuk membagikan-nya
lagi kepada orang lain, karena air tersebut sudah jelas tidak akan
membahayakan.
“Awaluddini ‘marifatuullaahh”.
“Awal-awalnya Agama adalah mengenal
Allaahh”.
Keterangan-nya adalah:
Iman ialah: keyakinan/kepercaya-an.
Dan Agama ialah
pengamalan/pengabdian.
Untuk menjalankan
pengamalan-pengamalan diatas maka diwajibkan mempelajari agar mengetahui dengan
sejelas-jelasnya dan setelah mengetahuinya baru boleh mengamalkan-nya.
Sarat dan rukun yang harus di
pelajari antara lain:
1.RUKUN IMAN
Iman didirikan di atas enam perkara:
1. Ber’itiqad (percaya) pada
adanya Tuhan Allaahh Ta’ala yang Esa.
2. Ber’itiqad (percaya) pada
adanya malaikat Allaahh Ta’ala.
3. Ber’itiqad (percaya) pada
adanya kitab-kitab Allhahh Ta’ala.
4. Ber’itiqad (percaya) pada
adanya utusan-utusan AllaahhTa’ala.
5. Ber’itiqad (percaya) pada
adanya hari kiamat, ialah hari rusaknya alam dunia.
6. Ber’itiqad (percaya) pada
qadla dan qadarnya Allaahh bahwa adanya baik dan buruk itu cipta-an
Allaahh Ta’alaa.
Adapun dalil ke-enam dasar iman di
atas ini ialah sabda Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh sahabat
Umar ra. sebagaimana yang dikutip oleh Imam Nawawi di dalam kitab Arba’in, ketika
Nabi Muhammad saw diminta menerangkan apakah iman itu? lantas beliau bersabda
أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله
واليوم الأخر وتؤمن بالقدر خيره وشره
Antuu minnu billaahhi
wa malaaiikatihhi wa rasulihhi walyawmil akhiri watuuminu
bilqadari khayrihhi wa syarihhi.
Artinya:
Berimanlah kamu kepada Allaahh
dan malaikatNya dan kitab-kitabNya dan utusan-utusan-Nya dan hari Qiamat dan
imanlah kamu pada kepastian Allaahh dalam baiknya dan buruknya.
Oleh karenanya, barangsiapa yang
beriman tetapi tidak berdasar pada enam hal tersebut, maka imannya tidak
berguna dan tidak menghasilkan apa-apa kecuali berdiam selamanya di dalam siksa
neraka.
2.RUKUN ISLAM.
Islam didasarkan pada lima perkara:
1.Mengucapkan dua kalimat syahadat:
أشهد أن لااله الاالله واشهد ان محمدا
رسول الله
Artinya:
Aku ber’iitiqad bahwa sesungguhnya
tiada Tuhan melainkan Allaahh, dan aku ber‘itikad bahwa Nabi Muhmmad itu
utusan Allaahh.
Bagi orang yang tidak bisa
mengucapkan syahadat dengan bahasa arab maka cukuplah mengucap syahadat dengan
bahasanya sendiri, asal saja artinya sesuai dengan syahadat bahasa arab
tersebut. Pada dasarnya kewajiban mengucap syahadat sebagai dasar Islam itu
sekali selama hidup, asal saja sesudahnya tidak pernah murtad.
2.Mendirikan shalat lima waktu:
Mendirikan shalat lima waktu,perlu
di-ingat bahwasannya shalat lima waktu inilah tanda keislaman yang kelihatan
tiap-tiap hari, dan inilah yang membedakan antara orang Islam dengan lain
Islam, sebagaimana Dari Buraidah bin Hushaib radhiallahu anhu, dia berkata,
"Aku mendengar Rasulullaahh shallallaahhu alayhhi wa
sallam bersabda;
العهد الذى بيننا وبين الكفر الصلاة
فمن ترك الصلاة فقد كفر
"Perjanjian antara kita dengan
mereka adalah shalat, siapa yang meninggalkannya, maka dia telah kafir."
(HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, Nasa'i, dan Ibnu Majahh)
Yang dimaksud kufur di sini adalah
kufur yang dapat mengeluarkannya dari agama, karena Nabi shallallaahhu
alayhhi wa sallam menjadikan shalat sebagai batas antara orang beriman
dengan orang kafir. Sebagaimana diketahui bahwa agama orang kafir berbeda
dengan agama Islam, maka siapa yang tidak menunaikan janjinya, maka dia kafir.
Menurut Imam Syafi’i sabda ini
berarti, bahwa perjanjian yang membedakan antara kita orang Islam dan orang
kufur ialah shalat, maka siapa yang meninggalkan shalat, maka sungguh ia adalah
orang kufur: Menurut Imam Hambali bahwa orang yang sengaja meninggalkan shalat
niscaya ia menjadi kufur. Jadi apabila dia mati dalam keada-an tersebut, maka
mayitnya tidak harus diurus secara Islam, artinya tidak dishalati atau dikubur
di tanah kuburan Islam.
3.Membayar/mengeluarkan/memberi
zakat:
Jangan lupa bahwa zakat itu ada
beberapa bentuk; zakat fitrahh, zakat tanaman, zakat emas dan perak,
zakat hewan ternak (mawasyi), Zakat dagangan (tijarahh)
dan lain sebagainya.
4.Menunaikan puasa dibulan Ramadlan:
Puasa Ramadlan diwajubkan bagi
Muslim, dan dalil dalil tentang kewajiban berpuasa semuanya diambil dari Qur-an
dan Sunnahh. Di antaranya adalah firman Allaahh Ta’alaadalam(Al-Baqarah
ayat;183-185):
Yaa ayyuhhaalladhiina aamanuu
kutiba alaykumus-siyaamu kamaa kutiba ‘al lladziina min qablikum la’allakum
tattaquun.
Ayyaaman ‘maduudaatin faman kaana
minkum mariidlan aw ‘alaa safarin fa’iddatun min ayyaa min ukhara wa ‘alaa
lladhiina yuthiiquunahhu fidyatun tha ‘aamu miskiinin faman tathawwa’a
khayran fahhuwa khayrul- lahhuu wa’an tashuumuu khayrun lakum in
kuntum ‘talamuun.
shahhru ramadlaana
lladziiunzila fīihil qur-aanu hhudal-linnaasi wabayyinaatin minal
hhudaa wal furqaani faman shahida minkumush-shahhra fal yashumhhu
waman kaana mariidlaan aw ‘alaa safarin fa’iddatum min ayyaamin ukhara
yuriidullaahhu bikumul yusra walaa yuriidu bikumul’usra walitukmiluul
‘iddata wali-tukabbiruullaahha ‘alaa maa hhadzaakum wala’allakum
tasykuruun.
Artinya:
*Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertakwa,
*(yaitu) dalam beberapa hari yang
tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu
ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan
itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat
menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyahh, (yaitu):
memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan
kebajikan)*, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik
bagimu jika kamu Mengetahui.
*beberapa hari yang ditentukan itu
ialah) bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permula-an) Al Qur-an
sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu
dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di
antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya
itu, pada hari-hari yang lain. Allaahh menghendaki kemudahan bagimu, dan
tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya
dan hendaklah kamu mengagungkan Allaahh atas petunjukNya yang diberikan
kepadamu, supaya kamu bersyukur.
)*maksudnya memberi makan lebih dari
seorang miskin untuk satu hari.
Dalam hadits Abdullaahh bin
Umar riwayat Al Bukhaary dan Muslim, Nabi shallallaahhu ‘alaihhi
wa sallam menerangkan bahwa puasa adalah salah satu rukun Islam yang agung
dan mulia,
بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ
شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ،
وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Buniyal islaamu ‘alaa khamsin
syahhadatin an laailaahha illaallaahhu wa anna Muhammadar-rasulullaahh
waiqamish-shalaati wa iitaaiiz-zakaati walhajji washawmi ramadlaana.
Artinya:
Islam dibangun di atas lima
(perkara, pondasi): Syahadat Laa
Ilaahha Illallaahhwa Anna Muhammadan ‘Abduhhu wa Rasuuluhhu,
mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berhaji ke Rumah Allaahh, dan
berpuasa Ramadlan.”
Juga dalam hadits Thalhhahh
bin Ubaidullaahh radliyallaahhu ‘anhhu riwayat
Al-Bukhaary dan Muslim, ketika seorang ‘Araby bertanya kepada Rasulullaahh
shallallaahhu ‘alayhhi wassallamtentang Islam, beliau
bersabda,
خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِى الْيَوْمِ
وَاللَّيْلَةِ . فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهُنَّ قَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ
تَطَّوَّعَ وَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ . فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهُ فَقَالَ :
لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ . وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ : لاَ.
إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ . قَالَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ
لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلاَ أَنْقُصُ مِنْهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ .
Artinya:
Shalat lima waktu (diwajibkan) dalam
sehari dan semalam.” Maka, ia berkata, “Apakah ada kewajiban lain terhadapku?”
Beliau menjawab, “Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunnahh. Juga puasa
Ramadhan.” Maka, ia berkata, “Apakah ada kewajiban lain terhadapku?” Beliau
menjawab, “Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunnahh,” dan Rasulullaahhshallallaahhu ‘alayhhi wa sallam menyebutkan
(kewajiban) zakat terhadapnya. Maka, ia berkata, ‘Apakah ada kewajiban lain
terhadapku?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunnahh.”
Kemudian, orang tersebut pergi seraya berkata, “Demi Allaahh, saya tidak
akan menambah di atas hal ini dan tidak akan menguranginya.’ Maka, Rasulullaahh
shallallaahhu‘alayhhi wa sallambersabda, ‘Ia telah
beruntung apabila jujur’”.
Selain itu, hadits yang semakna
dengan ini diriwayatkan pula oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Anas bin
Malik radliyallaahhu ‘anhhu, dan diriwayatkan oleh Muslim
dari hadits Jaabir bin Abdillaahh radliyallaahhu ‘anhhumaa.
Selanjutnya, dalil lain terdapat
dalam hadits Umar bin Khathab radliyallaahhu ‘anhu riwayat Muslim
,dan hadits Abu Hhurairah radliyallaahhu ‘anhhu
riwayat Al-Bukhaary dan Muslim, tentang kisah Jibril yang masyhur ketika beliau
bertanya kepada Rasulullaahh shallallaahhu ‘alaihhi wa
sallam tentang Islam, Iman, Ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat. Ketika
ditanya tentang Islam, Nabi shallallaahhu ‘alayhhi wa sallam
menjawab,
الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ
وَتُؤْتِىَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ
إِلَيْهِ سَبِيلاً.
Artinya:
Islam adalah bahwa engkau bersaksi
bahwa tiada yang berhak untuk di-ibadahi kecuali Allaahh dan
sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allaahh, engkau menegakkan shalat,
mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadlan, serta berhaji ke rumah (Allaahh)
bila engkau sanggup menempuh jalan untuk itu.
Berdasarkan dalil-dalil di atas,
para ulama bersepakat bahwa siapapun yang mengingkari kewajiban puasa dianggap
kafir, keluar dari Islam, dan dianggap telah mengingkari suatu perkara, yang
kewajibannya telah dimaklumi secara darurat dalam syariat Islam.
Seluruh dalil di atas menunjukkan
keutama-an puasa yang sangat besar dan menunjukkan bahwa betapa agung nikmat
dan rahmat Allaahh bagi umat Islam.
Allaahh Subhaanahhu
wa Ta’alaa dan RasulNya telah menjelaskan berbagai macam keutama-an puasa
secara umum dan keutama-an puasa Ramadlan secara khusus. Agar kita dapat
bersegera dalam hal menggapai rahmat Allaahh dan bergembira terhadap karunia
dan nikmatNya, berikut ini, kami menyebutkan beberapa keutama-an puasa. Di
antaranya adalah:
Pertama, ampunan dan pahala yang sangat besar bagi orang yang
berpuasa.
Allaahh ta’alaaTsanaa’uhhu
menyebutkan sederet orang-orang yang beramal shalih, yang di antara mereka
adalah laki-laki dan perempuan yang berpuasa, kemudian menyatakan pahala untuk
mereka dalam firman-Nya,(Al-Ahzaab: 35):
Artinya:
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan
yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin)*, laki-laki dan perempuan
yang tetap dalam keta-atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki
dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan
perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan
perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak
menyebut (nama) Allaahh, Allaahh Telah menyediakan untuk mereka
ampunan dan pahala yang besar.
)*yang dimaksud dengan muslim di
sini ialah orang-orang yang mengikuti perintah dan larangan pada lahiriyahnya,
sedang yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini ialah orang yang
membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya.
Kedua, puasa adalah tameng terhadap api neraka.
Dalam riwayat Al-Bukhaary dan Muslim
dari Abu Hurairahh radhiyallaahhu ‘anhhu, Nabi shalallaahhu
‘alayhhi wasallam bersabda,
وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ
يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَسْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ
أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّيْ امْرُؤٌ صَائِمٌ
Artinya:
Dan puasa adalah tameng. Bila salah
seorang dari kalian berada pada hari puasa, janganlah ia berbuat sia-sia dan
janganlah ia banyak mendebat. Kalau orang lain mencercanya atau memusuhinya,
hendaknya ia berkata, ‘Saya sedang berpuasa.’.”
Juga dalam hadits Jabir, ‘Utsman bin
Abil Aash, dan Abu Hurairahh radliyallaahhu ‘anhhu
riwayat Imam Ahmad dan selainnya, Rasulullaahh shallallaahhu
‘alayhhi wa sallam bersabda,
الصِّيَامُ جُنَّةٌ كَجُنَّةِ
أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ
Artinya:
Puasa adalah tameng terhadap
neraka,seperti tameng salah seorang dari kalian pada peperangan.
Ketiga, puasa adalah pemutus syahwat.
Dalam hadits ‘Abdullaahh bin
Mas’ud radliyallaahh ‘anhhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim,
Rasulullaahh shallallaahhu ‘alayhi wassallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ
اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ
لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ
وِجَاءٌ
Artinya:
Wahai sekalian pemuda, barangsiapa
di antara kalian yang mampu menikah, hendaklah ia menikah karena hal tersebut
lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang
belum mampu, hendaknya ia berpuasa karena sesungguhnya (puasa itu) adalah
pemutus syahwatnya.”
Ke-empat, orang yang berpuasa mendapat ganjaran khusus di sisi Allaahh.
Hal tersebut karena puasa merupakan
bagian kesabaran, sementara sabar terbagi tiga: sabar dalam hal menjalankan
ketaatan, sabar dalam hal meninggalkan larangan, dan sabar dalam hal menerima
ketentuan Allaahh. Orang yang berpuasa telah melakukan tiga jenis kesabaran
ini seluruhnya, bahwa ia sabar dalam hal menjalankan ketaatan yang diperintah
dalam pelaksanaan puasa, sabar dalam hal meninggalkan segala hal yang dilarang
dan diharamkan dalam pelaksana-an puasa, serta sabar dalam hal menjalani
kepedihan terhadap lapar, haus, dan kelemahan pada tubuh. Karena puasa
merupakan bagian kesabaran, wajar jika orang yang berpuasa mendapatkan pahala
khusus yang tidak terhingga sebagaimana orang yang sabar mendapat pahala
seperti itu. Allaahh Subhaanahhu wa Ta’alaaberfirman
dalam (Al Qur’an surat Az-Zumar: 10):
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ
أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya:
Sesungguhnya, hanya orang-orang yang
bersabarlah yang pahala mereka dicukupkan tanpa batas.
Kelima, orang yang berpuasa memiliki dua kegembira-an.
Ke-enam, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allaahh
daripada bau wangian kasturi.
Tiga keutama-an yang disebut
terakhir termaktub dalam hadits Abu Hurairah radhiyallaahhu ‘anhhu
riwayat Al-Bukhary dan Muslim bahwa Rasulullaahh shallallaahhu
‘alaihhi wasallam bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ
عَشْرَ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ
وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ
وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ
مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
Artinya:
Setiap amalan Anak Adam, kebaikannya
dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allaahh
‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa. Sesungguhnya, (amalan) itu adalah
(khusus) bagiKu dan Aku yang akan memberikan pahalanya karena (orang yang berpuasa)
meninggalkan syahwat dan makanan-nya karena Aku.’ Bagi orang yang berpuasa, ada
dua kegembira-an: kegembiraan ketika dia berbuka puasa dan kegembiraan ketika
dia berjumpa dengan Rabb-nya. Sesungguhnya, bau
mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allaahh daripada bau kasturi.(Lafadh
hadits adalah milik Imam Muslim)
Ketujuh, puasa sehari di jalan Allaahh menjauhkan wajah
seseorang dari neraka sejauh perjalanan selama tujuh puluh tahun.
Dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudry radliyallaahhu
‘anhhuriwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullaahh shallallaahhu
‘alayhhi wasallam bersabda,
مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِى
سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ
النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
Artinya:
Tidak seorang hamba pun yang
berpuasa sehari di jalan Allaahh, kecuali, karena (amalannya pada) hari
itu, Allaahh akan menjauhkan wajahnya dari neraka (sejauh perjalanan)
selama tujuh puluh tahun.”
Kedelapan, pintu khusus di surga bagi orang-orang yang berpuasa.
Dalam hadits Sahl bin Sa’ad
As-Saa’idy radliyallaahhu ‘anhhumaa riwayat Al-Bukhaary
dan Muslim, Rasulullaahh shallallaahhu ‘alayhhi
wasallambersabda,
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ
لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ
مَعَهُمْ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَدْخُلُونَ مِنْهُ
فَإِذَا دَخَلَ آخِرُهُمْ أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
Artinya:
Sesungguhnya, di surga, ada pintu
yang dinamakan Ar-Rayyaan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya
pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang melewatinya, kecuali mereka.
Dikatakan, ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka memasukinya. Jika
(orang) terakhir dari mereka telah masuk, (pintu) itupun dikunci sehingga tidak
ada seorang pun yang melaluinya.
Kesembilan, puasa termasuk kaffarahh/pengganti semua
peribadatan yang tertinggal dan atau kurang sempurna sebagai (penggugur) dosa
hamba.
Dalam hadits Hadzaifahh Ibnul
Yamaan radhiyallaahhu ‘anhhumaa riwayat Al-Bukhaary dan
Muslim, Nabi shallallaahhu ‘alaihhi wa`sallam bersabda;
فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِيْ أَهْلِهِ
وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ
وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ
Artinya:
Fitnah seseorang terhadap keluarga,
harta, jiwa, anak, dan tetangganya dapat ditebus dengan puasa, shalat, shadaqahh,
serta amar ma’ruf dan nahhi mungkar.”(Konteks
hadits adalah milik Imam Muslim)
Juga dalam hadits Abu Hurairahh
radhiyallaahhu ‘anhhu riwayat Muslim, Rasulullaahh shallallaahhu
‘alayhhi wasallambersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ
إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ
إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
Artinya:
Shalat lima waktu, (dari) Jum’at ke
Jum’at, dan (dari) Ramadlan ke Ramadlan, adalah penggugur dosa (seseorang pada
masa) di antara waktu tersebut sepanjang ia menjauhi dosa besar.
Bahkan, puasa menjadi bagian
kaffarat pada beberapa perkara seperti:
1. Pelanggaran sumpah.
2. Dhihhaar.
3. Sebagian amalan haji.
4. Pembunuhan Ahhludz
Dzimmah orang yang berada di bawah perjanjian tanpa sengaja.
5. Pembunuhan hewan buruan
sa-at ihram.
Kesepuluh, puasa termasuk amalan yang mengakibatkan seseorang
dimasukkan ke dalam surga.
Dalam haditsnya riwayat Ibnu Abi
Syaibahh, Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan lain-lain, Abu Umaamah radhiyallaahhu
‘anhhu berkata kepada Nabi shallallaahhu ‘alayhhi
wasallam,
يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمُرْنِيْ
بِعَمَلٍ أَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ . قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ
مِثْلَ لَه
Artinya:
Wahai Rasulullaahh,perintahkan
saya untuk suatu amalan, yang dengan-nya,saya dimasukan kedalam surga. Beliau
menjawab,Berpuasalah, karena puasa itu tak ada bandingan-nya.
Kesebelas, puasa memberi syafa’at pada hari kiamat.
Dalam hadits Abdullaahh bin ‘Amr
radhiyallaahhu ‘anhhumaa, Rasulullaahh shallallaahhu
‘alayhhi wasallam bersabda;
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ
لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ
الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِيْ فِيهِ. وَيَقُولُ
الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِيْ فِيهِ. قَالَ
فَيُشَفَّعَانِ.
Artinya:
Puasa dan Al-Qur-an akan memberi
syafa’at untuk seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Tuhanku, saya telah melarangnya terhadap makanan dan
syahwat pada siang hari, maka izinkanlah saya untuk memberi syafa’at baginya.’
Al-Qur-an berkata, ‘Saya telah menghalanginya dari tidur malam, maka izinkanlah
saya untuk memberi syafa’at baginya.’ (Beliau) bersabda, ‘Maka, keduanya mendapat
izin untuk mensyafa’ati (hamba) tersebut’.” (HR. Ahmad, Muhammad bin Nash
Al-Marwazy, Al-Hakim, dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Tamaamul
Minnahh hal. 394-395)
Kedua belas, pada Ramadlan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu
neraka ditutup, serta syaithan dibelenggu.
Dalam hadits Abu Hurairahh radliyallaahhu
‘anhhuriwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullaahh shallallaahhu
‘alaihhi wasallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ
أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya:
Jika Ramadlan telah tiba,
pintu-pintu surge dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syaithan-syaithan
dibelenggu.”
Ketiga belas, orang yang berpuasa pada Ramadlan, karena keimanan dan hal
mengharap pahala, dosa-dosanya diampuni.
Dalam hadits Abu Hurairah radliyallaahhu
‘anhhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullaahh shallallaahhu
‘alaihhi wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:
Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan
karena keimanan dan hal mengharap pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan
diampuni.
5.Melaksanakan ibadah haji:
Ibadah haji diharuskan bagi setiap
Muslim apabila kuasa dan cukupnya bekal dan amannya perjalanan dan sempat
waktunya. Haji yang wajib hanya sekali dalam seumur hidup.
Adapun asal dalil lima dasar Islam
tersebut ialah sabda Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan oleh Sayyidina Umar
ra. sebagaimana yang dikutip oleh Imam Nanawi di dalam kitab Arba’in-nya:
الاسلام أن تشهد ان لااله الاالله وان
محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتى الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت ان استطعت اليه
سبيلا
Artinya:
Bahwa islam harus bersyahadatlah
kalian, sesungguhnya tiada Tuhan selain Allaahh dan sesungguhnya
Muhammad itu utusan Alalahh, dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat
dan puasalah kamu di bulan Ramadlan dan hajilah ke Baitullaahh jikalau
kuasa perjalanan.
Kedua Rukun ini tidak bisa di
pisahkan bagi siapa saja yang merasa Menghambakan diri-Nya kepada Allaahh
Subhanahhuwata’alaa.
3.RUKUN IHSAN.
Rukun Ihsan adalah: bahwa anda
beribadah kepada Allaahh Ta’ala seakan-akan anda melihatNya. Tapi jika
anda tidak mampu melihatNya, maka sesungguhnya Allaahh melihat kita.
Rukun ihsan ada satu, yaitu:
engkau beribadah kepada Allaahh
seolah-olah engkau melihatNya, jika engkau tidak dapat melihatNya maka
sesungguhnya Dia melihatmu.
Allaahh senantiasa
mengawasimu dalam setiap gerak gerikmu. Allaahh melihat segala apa yang
engkau lakukan.
Allahh melihat ibadahmu. Allaahh
melihat rukuk dan sujudmu. Dan Allahh akan membalasmu dengan amalanmu.
Maka takutlah kepada Allaahh,
karena Allaahh mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.
Allaahh memerintah kepada
orang-orang yang beriman agar bertaqwa kepada Allaahh. Berarti sesudah
Manusia beriman masih ada perintah lanjutan, yaitu perintah agar bertaqwa
kepada Allaahh. Merujuk pada hadits yang diriwayatkan Muslim No.1,
Terjemahan Shahih Muslim halaman 1-2 tentang Islamul Kaffahh. Adapun
tiga pertanya-an Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad:
· Pertama tentang Islam,
Dari urutan pertanya-an Malaikat
tersebut jelas terdapat pelajaran, bahwa pertama manusia wajib menjalankan
rukun Islam untuk mencapai predikat sebagai Muslim, yaitu orang-orang yang
berserah diri.
· Kedua tentang Iman.
tahap kedua manusia wajib
menjalankan rukun Iman dan cabang Iman serta ranting-ranting Iman untuk mencapai
predikat Mukmin, yaitu orang-orang yang beriman.
· Ketiga tentang Ihsan.
adapun tahap ketiga manusia wajib
menuntut Ihsan yaitu medan keilmuan didalam Islamul Kaffahh untuk
mencapai predikat sebagai Muhsin, yaitu orang-orang yang mengenal Allaahh.
Allaahh memerintahkan orang
beriman yaitu Mukmin untuk bertaqwa kepada Allaahh.
Berarti taqwa adalah merupakan
satu-satunya rukun Ihsan. Adapun untuk memberi kejelasan sempurna tentang
definisi taqwa, maka merujuk surat Al Baqarah ayat 282, yaitu orang bertaqwa
adalah orang yang mendapat pelajaran atau didikan langsung dari Allaahh.
"Dan bertaqwalah kepada Allaahh; Allaahh mengajarmu; dan Allaahh Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Baqarah ayat 282):
"Dan bertaqwalah kepada Allaahh; Allaahh mengajarmu; dan Allaahh Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Baqarah ayat 282):
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman,
apabila kamu bermu'amalah)*tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,
hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu
menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya
sebagaimana Allaahh mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan
hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu),
dan hendaklah ia bertakwa kepada Allaahh Tuhannya, dan janganlah ia
mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang
lemah akalnya atau lemah (keada-annya) atau dia sendiri tidak mampu
mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan
persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu).
jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang
perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang
seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan)
apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik
kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih
adil di sisi Allaahh dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat
kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahhmu itu),
kecuali jika mu'amalahh itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di
antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan
persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi
saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya
hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allaahh;
Allaahh mengajarmu; dan Allaahh Maha mengetahui segala sesuatu.
)*Bermu’amalahh ialah seperti
berjual beli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan sebagainya.
Selanjutnya kita mengikuti pelajaran
tentang Ihsan merujuk pada (Al Qur-an Surat Al Maidahh ayat 11):
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman,
ingatlah kamu akan nikmat Allaahh (yang diberikan-Nya) kepadamu, di
waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk
berbuat jahat), Maka Allaahh menahan tangan mereka dari kamu. dan
bertakwalah kepada Allaahh, dan Hanya kepada Allaahh sajalah
orang-orang mu’min itu harus bertawakkal.
Firman Allaahh ini menjelaskan bahwa sesudah seseorang bertaqwa, Allaahh masih memerintah melakukan tahap lanjutan yaitu tawakal. Perhatikan kalimat “Bertaqwalah” dan berlanjut pada kalimat“Bertawakkal”. Dan kini menjadi jelas bahwa rukun islam ada dua yaitu taqwa adalah rukun Ihsan yang pertama, adapun tawakal menjadi rukun yang kedua.
Apakah masih ada rukun Ihsan selanjutnya ?, baiklah kita merujuk pada firman Allaahh Surat Shaad ayat 82-83
*Iblis menjawab: "Demi
kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya,
*Kecuali hamba-hamba-Mu yang
mukhlish di antara mereka)*.
)*yang dimaksud dengan mukhlish
ialah orang-orang yang Telah diberi taufiq untuk menta-ati segala petunjuk dan
perintah Allaahh s.w.t.
Firman Allaahh ini mengajarkan bahwa Iblis La’natullaahh bersumpah dihadapan Allaahh untuk menyesatkan seluruh manusia, tetapi Iblis La’natullaahh sendiri yang menyatakan bahwa ia tidak mampu menyesatkan Mukhlishina Lahuddin. Berarti ini suatu kejelasan bahwa tingkat Mukhlis adalah maqam tertinggi disisi Allaahh dan dapat dipastikan bahwa ia merupakan rukun Ihsan yang ketiga.
Maka sebagai kesimpulan bahwa rukun Ihsan ada tiga perkara:
· Yang pertama taqwa.
· Yang kedua tawakal.
· Yang ketiga ikhlas atau
Mukhlis.
Mengapa Allaahh dan RasulNya
dalam urusan Ihsan tidak menjelaskan secara rinci sebagaimana dijelaskannya
tentang rukun Islam dan rukun Iman, itu ketentuan atau ketetapan Allaahh
dan RasulNya karena untuk menuntut Ihsan yaitu dimensi keilmuan dalam Islamul
Kaffahh, Allaahh dan RasulNya telah mensunnahkan agar manusia
menuntut dimensi Ihsan ini kepada orang ‘Alim pewaris Nabi. Perhatikan dua buah
ayat ( Al Qur-an yaitu, surat Al Ambiya ayat 73):
Artinya:
Kami Telah menjadikan mereka itu
sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami dan Telah
kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang,
menunaikan zakat, dan Hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah,
dan dalam (Al Qur-an surat As
Sajadah ayat 24):
Artinya:
Dan kami jadikan di antara mereka
itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka
sabar)*. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.
)*yang dimaksud dengan sabar ialah
sabar dalam menegakkan kebenaran.
Dua ayat Al Qur-an tersebut
mengajarkan kepada siapa kita wajib menuntut Ihsan, yaitu kepada para Imam yang
tugas mereka memberi petunjuk atau mengajar manusia dan mereka adalah
orang-orang yang dituntun wahyu. Perhatikan kalimat “Kami telah menjadikan
mereka itu sebagai Imam-Imam”. Pada kalimat “Kami telah manjadikan mereka itu
sebagai Imam-Imam”, kalimat ini merupakan penjelasan bahwa para Imam diangkat
oleh Allaahh bukan diangkat atau disyahkan oleh manusia. Selanjutnya
pada kalimat “yang memberi petunjuk dengan perintah Kami” mempunyai makna bahwa
para Imam memberi petunjuk atau ajaran kepada manusia yaitu jama’ahnya, bukan
dengan kemampuan akal atau kecerdasannya. Tetapi para Imam memberi petunjuk
kepada manusia dengan perintah atau petunjuk Allaahh. Adapun kalimat
“Dan telah kami wahyukan kepada mereka” memberikan kejelasan yang pasti bahwa
para Imam tersebut benar-benar mampu menerima wahyu, yang dengan tuntunan wahyu
itulah mereka mengajar manusia.
Untuk jelasnya tugas para Imam adalah memberi petunjuk yaitu mendidik manusia sampai ketingkat taqwa. Sesudah seseorang mencapai tingkat taqwa, orang tersebut tidak lagi dididik oleh Imamnya melainkan telah menjadi orang yang dididik Allaahh. Perhatikan firman Allaahh surat Al Baqarah ayat 282:
"Dan bertaqwalah kepada Allaahh; Allaahh mengajarmu; dan Allaahh Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Baqarah ayat 282)
Firman Allaahh ini memberikan pelajaran dengan jelas bahwa orang bertaqwa mendapat pelajaran atau didikan langsung dari Allaahh. Selanjutnya yang menjadi pertanya-an apakah yang diajarkan oleh Allaahh kepada orang bertaqwa. Sebagai jawabannya kita merujuk pada (Al Qur-an surat Yunus ayat 62-64):
Untuk jelasnya tugas para Imam adalah memberi petunjuk yaitu mendidik manusia sampai ketingkat taqwa. Sesudah seseorang mencapai tingkat taqwa, orang tersebut tidak lagi dididik oleh Imamnya melainkan telah menjadi orang yang dididik Allaahh. Perhatikan firman Allaahh surat Al Baqarah ayat 282:
"Dan bertaqwalah kepada Allaahh; Allaahh mengajarmu; dan Allaahh Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Baqarah ayat 282)
Firman Allaahh ini memberikan pelajaran dengan jelas bahwa orang bertaqwa mendapat pelajaran atau didikan langsung dari Allaahh. Selanjutnya yang menjadi pertanya-an apakah yang diajarkan oleh Allaahh kepada orang bertaqwa. Sebagai jawabannya kita merujuk pada (Al Qur-an surat Yunus ayat 62-64):
*Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali
Allaahh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati.
*(yaitu) orang-orang yang beriman
dan mereka selalu bertakwa.
*Bagi mereka berita gembira di dalam
kehidupan di dunia dan di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat
(janji-janji) Allaahh. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.
Firman Allaahh ini memberikan
penjelasan bahwa orang bertaqwa mendapat pelajaran dari Allaahh, yaitu
ilmu laduni merupakan pelajaran jalan kewalian untuk memperoleh kemenangan yang
besar. Perhatikan kalimat “Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allaahh itu,
tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati,
(yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa”, serta kalimat
“Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan akhirat. tidak ada
perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allaahh. yang demikian itu
adalah kemenangan yang besar”.
Perlu pula dijelaskan bahwa orang yang mendapat pelajaran dari Allaahh atau orang yang dididik Allaahh pada hakekatnya adalah mereka mendapatkan pelajaran-pelajaran jalan kewalian yaitu Ilmu laduni atau Ilmu dari sisi Allaahh, dan merekalah orang yang bertaqwa. Perhatikan kalimat “(yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa”. Dalam (Q.S. Al Hadid ayat 28):
Perlu pula dijelaskan bahwa orang yang mendapat pelajaran dari Allaahh atau orang yang dididik Allaahh pada hakekatnya adalah mereka mendapatkan pelajaran-pelajaran jalan kewalian yaitu Ilmu laduni atau Ilmu dari sisi Allaahh, dan merekalah orang yang bertaqwa. Perhatikan kalimat “(yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa”. Dalam (Q.S. Al Hadid ayat 28):
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman (kepada
para rasul), bertakwalah kepada Allaahh dan berimanlah kepada RasulNya,
niscaya Allaahh memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan
menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan dia
mengampuni kamu. dan Allaahh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Juga dalam (Q.S. Al An’am ayat 122):
Aretinya:
Dan apakah orang yang sudah mati)*
Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang
dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia,
serupa dengan orang yang keadaa-nnya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali
tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu
memandang baik apa yang Telah mereka kerjakan.
)*maksudnya ialah orang yang Telah
mati hatinya yakni orang-orang kafir dan sebagainya.
Dua ayat tersebut diatas merupakan
haqeqat jalan kewalian bahwa orang yang dididik Allaahh akan mendapat
dua rahmat. Perhatikan kalimat “niscaya Allaahh memberikan rahmatNya
kepadamu dua bagian,
Adapun yang dimaksud dua bahagian
rahmat adalah
· Nurul Iman dan;
· Nurul Ilmi.
Yang dimaksud nurul iman
adalah seluruh pahala yang kita dapat dalam melaksanakan perilaku-perilaku iman
atau amal sholeh. Untuk memperjelas hal tersebut perlu diterangkan bahwa bila
kita melakukan amal sholeh pahala yang kita dapatkan adalah berbentuk cahaya
atau nur, pahala shalat adalah nurusshalat, pahala zakat adalah nuruz zakat,
pahala haji adalah nurul hajj’, semua pahala amal shaleh yang berwujud nur akan
bersatu dengan ruh manusia yang melakukan amal shaleh tersebut sehingga ruh
manusia tersebut bertambah cemerlang.
Adapun nurul ilmu adalah berupa pahala dzikrullaahh dan hasil dari mengamalkan secara berkekalan gagasan ilmu yang ditentukan dalam hadits Nabi misalnya ayat Kursy, Amanarasul, Kanzul Arsy, Nurbuat’, ayat lima, ayat tujuh, ayat lima belas, Al Fatihahh dan lain-lain.
Selanjutnya perlu dijelaskan bahwa pahala mengamalkan gagasan ilmu yang ditunjuk oleh Nabi dan dzikrullaahh mendatangkan pahala berbentuk cahaya atau nur. Karena yang diamalkan adalah ayat-ayat Qur-an maka yang diturunkan oleh Jibril kedalam hati manusia dan bergabung menyelimuti ruh insani atau ruh pribadi orang yang mengamalkan gagasan ilmu tersebut adalah berwujud nurul Qur-an, dimana nurul Qur-an tersebut bergabung menyelimuti ruh insani orang yang mengamalkan gagasan ilmu yang dirujuk oleh Nabi.
Adapun maksud kalimat “dan menjadikan untukmu nuur yang dengan nuur itu kamu dapat berjalan”. Kalimat ini memberi pengertian bahwa orang ‘Alim yang telah mendapatkan dua rahmat, nurul Iman yang membuat ruh insani menjadi cemerlang dan mendapat nurul Ilmi yang menyelimuti ruh insani, yang berakibat ruh insani tersebut lebih cemerlang. Selanjutnya Allaahh berfirman Allaahh akan memberikan nur tambahan yang dengan nur itu orang ‘Alim dapat berjalan.
Untuk memahami makna firman Allaahh tersebut perlu disampaikan firman Allaahh yang lain yaitu (Qur-an surat Al An’am ayat 122):
Adapun nurul ilmu adalah berupa pahala dzikrullaahh dan hasil dari mengamalkan secara berkekalan gagasan ilmu yang ditentukan dalam hadits Nabi misalnya ayat Kursy, Amanarasul, Kanzul Arsy, Nurbuat’, ayat lima, ayat tujuh, ayat lima belas, Al Fatihahh dan lain-lain.
Selanjutnya perlu dijelaskan bahwa pahala mengamalkan gagasan ilmu yang ditunjuk oleh Nabi dan dzikrullaahh mendatangkan pahala berbentuk cahaya atau nur. Karena yang diamalkan adalah ayat-ayat Qur-an maka yang diturunkan oleh Jibril kedalam hati manusia dan bergabung menyelimuti ruh insani atau ruh pribadi orang yang mengamalkan gagasan ilmu tersebut adalah berwujud nurul Qur-an, dimana nurul Qur-an tersebut bergabung menyelimuti ruh insani orang yang mengamalkan gagasan ilmu yang dirujuk oleh Nabi.
Adapun maksud kalimat “dan menjadikan untukmu nuur yang dengan nuur itu kamu dapat berjalan”. Kalimat ini memberi pengertian bahwa orang ‘Alim yang telah mendapatkan dua rahmat, nurul Iman yang membuat ruh insani menjadi cemerlang dan mendapat nurul Ilmi yang menyelimuti ruh insani, yang berakibat ruh insani tersebut lebih cemerlang. Selanjutnya Allaahh berfirman Allaahh akan memberikan nur tambahan yang dengan nur itu orang ‘Alim dapat berjalan.
Untuk memahami makna firman Allaahh tersebut perlu disampaikan firman Allaahh yang lain yaitu (Qur-an surat Al An’am ayat 122):
Artinya:
Dan apakah orang yang sudah mati)*
Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang
dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia,
serupa dengan orang yang keada-annya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali
tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu
memandang baik apa yang Telah mereka kerjakan.
)*maksudnya ialah orang yang Telah
mati hatinya yakni orang-orang kafir dan sebagainya.
tahap kedua manusia wajib
menjalankan rukun Iman dan cabang Iman serta ranting-ranting Iman untuk
mencapai predikat Mukmin, yaitu orang-orang yang beriman.
Perhatikan yang berbunyi “Dan apakah
orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya
nuur yang terang, yang dengan nuur itu dia dapat berjalan di tengah-tengah
masyarakat manusia”. Maka setelah mempelajari ayat tersebut dapat diketahui
makna firman Allaahh yang berbunyi “dan menjadikan untukmu nuur yang
dengan nuur itu kamu dapat berjalan”, yaitu bahwa orang berilmu yang sudah mati
Allaahh akan hidupkan kembali dan sebagai pengganti jasad yang telah
rusak Allaahh mengganti dengan jasad yang baru yaitu nur yang terang.
Perhatikan kalimat “Dan menjadikan untukmu nuur”, adapun fungsi nur tersebut
adalah sebagai pengganti jasad. Dengan jasad yang baru tersebut para Wali Allaahh
tidak mati dan tetap dapat berjalan di muka Bumi sebagaimana layaknya manusia
hidup, hanya saja jasad mereka yang lama yang berwujud daging dan tulang telah
tergantikan dengan jasad yang berwujud Nur. Perhatikan kalimat “yang dengan
nuur itu kamu dapat berjalan”.
Untuk memperjelas haqeqat Al Qur-an adalah berwujud nur dan bahwa Al Qur-an benar-benar berada didalam dada orang berilmu maka dikemukakan dua firman Allaahh.
Didalam (Q.S Asy Syuura ayat 52):
Untuk memperjelas haqeqat Al Qur-an adalah berwujud nur dan bahwa Al Qur-an benar-benar berada didalam dada orang berilmu maka dikemukakan dua firman Allaahh.
Didalam (Q.S Asy Syuura ayat 52):
Artinya:
Dan Demikianlah kami wahyukan
kepadamu wahyu (Al Qur-an) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah
mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur-an) dan tidak pula mengetahui apakah iman
itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia
siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu
benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Juga dalam (Q.S. Al Ankabut ayat
49):
Artinya:
Sebenarnya, Al Qur-an itu adalah
ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu)*, dan tidak
ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang dhalim.
)*Maksudnya: ayat-ayat Al Qur-an itu
terpelihara dalam dada dengan dihapal oleh banyak kaum muslimin turun temurun
dan dipahami oleh mereka, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mengubahnya.
Seorang Imam yang diangkat oleh
Allaahh adalah orang-orang yang bertaqwa yang memiliki nasab keilmuan
berawal kepada shahabat Nabi yang bernama Ali Bin Abi Thalib. Yang dimaksud
nasab Ilmu bahwa seorang Imam sebelum menjadi orang yang bertaqwa, Imam
tersebut pasti memiliki guru, dan guru Imam tersebut pasti juga memiliki guru
yang bila diusut dari semua guru tersebut berawal dari guru awal yaitu Sayidina
Ali Karamatullaahh Waj’hhahh. Perhatikan hadits Nabi :
“Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya . Maka barangsiapa menghendaki ilmu maka hendaklah dia mendatangi pintu”. (HR. ‘Uqaili, Ibnu ‘Adi, Thabraani dl Al- Kabir dan Hakim dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Adi dan Hakim dari Jabir, Al Jami’us Shaghier 2, hal. 193).
“Aku adalah kota hikmah, dan Ali adalah pintunya. (Tirmidzi manaqib Ali Bin Abi Thalib, 3657).
“Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya . Maka barangsiapa menghendaki ilmu maka hendaklah dia mendatangi pintu”. (HR. ‘Uqaili, Ibnu ‘Adi, Thabraani dl Al- Kabir dan Hakim dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Adi dan Hakim dari Jabir, Al Jami’us Shaghier 2, hal. 193).
“Aku adalah kota hikmah, dan Ali adalah pintunya. (Tirmidzi manaqib Ali Bin Abi Thalib, 3657).
4.SYAHADAT.
Syahadat ialah: Persaksian bahwa
tiada Tuhan selain Allaahh dan Muhammad adalah utusan Allaahh.
Penjelasan tentang arti (perssaksian ini) dan syarat-syarat LAA ILAAHHA
ILLALLAAHH adalah sebagai berikut:
LAA ILAAHHA = (tidak ada Tuhan), berarti meniadakan seluruh yang
disembah selain Allaahh Ta’alaa.
ILLALLAAHH = (selain Allaahh), berarti menetapkan ibadah untuk
Allaahh saja tidak ada sekutu bagiNya.
Syarat-syarat (persaksian) LAA
ILAAHHA ILLALLAHH, sebagai berikut:
1. Ilmu yang tidak di campuri
dengan kejahilan/kebodohan.
2. Keyakinan yang tidak
dicampuri dengan keraguan.
3. Ikhlash yang tidak
dicampuri dengan kesyirikan.
4. Kejujuran yang tidak
dicampuri dengan kebohongan.
5. Kecinta-an yang tidak
dicampuri dengan kebencian.
6. Keta’atan yang tidak
dicampuri dengan pembangkangan.
7. Penerima-an yang tidak
dicampuri dengan penolakan.
8. Pengingkaran terhadap
seluruh yang disembah selain Allaahh.
Syarat-syarat diatas dihimpun dalam
syair dibawah ini:
‘Ilmuny yaqiinun waikhlaashun
washidquka ma’a mahabbatin waanqiyaadin walqabulin lahha wajida tsaaminuhhaal
kufraanu minka bima siwaalilaahhi minal asyyaa-i qad ullihhaa.
Artinya: ‘Ilmu, keyakinan dan
keikhlashan serta kejujuranmu, bersama cinta dan ta’at serta menerima-nya, di
tambah (syarat) yang kedelapan adalah pengingkaran-mu, terhadap segala sesuatu
yang diperTuhankan selain Dia.
Penjelasan tentang persaksian bahwa
Muhammad adalah utusan Allaahh adalah sebagai berikut:
1.Mempercayai seluruh yang beliau
kabarkan.
2.Menta’ati seluruh yang beliau
perintahkan.
3.Menjauhi seluruh yang beliau
larang/cegah.
4.Tidak beribadah kepada Allaahh
kecuali sesuai dengan yang dicontohkan oleh beliau Nabi Muhammad shalallaahhu
a’layhhi wasalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar