Selasa, 29 Maret 2016

KONSEKWENSI TAUHID


KONSEKWENSI DAN PENGERTIAN TAUHID
Ilmu tauhid ialah: suatu ilmu yang mempelajari tentang ketuhanan, dimana seseorang beriman /mempercayai adanya Tuhan,maka orang tersebut haruslah mengetahui secara detail bahwa Tuhan itu benar-benar ada.
Adanya Tuhan haruslah jelas dengan hasil pemikiran serta pengamatan yang mutlak adanya, jangan katanya dan katanya. Suatu contoh; “ada seseorang membawa segelas air dia bilang bahwa yang dibawa nya itu adalah air kelapa muda yang sangat lah manis dan lezat rasa-nya, tentu bagi seseorang yang lagi haus akan terangsang ingin sekali meminumnya. Nah  disini kita mesti hati-hati jangan langsung menegaknya sebelum meyakinkan dulu bahwa air tersebut betul-betul air kelapa atau bukan?, sudah jadi barang tentu bahwa untuk meyakinkan nya kita harus memeriksanya/menyelidikinya terlebih dahulu. Kalau suda jelas bahwa itu betul-betul air kelapa, baru kita boleh meminumnya bahkan untuk membagikan-nya lagi kepada orang lain, karena air tersebut sudah jelas tidak akan membahayakan.
“Awaluddini ‘marifatuullaahh”.
“Awal-awalnya Agama adalah mengenal Allaahh”.
Keterangan-nya adalah:
Iman ialah: keyakinan/kepercaya-an.
Dan Agama ialah pengamalan/pengabdian.
Untuk menjalankan  pengamalan-pengamalan diatas maka diwajibkan mempelajari agar mengetahui dengan sejelas-jelasnya dan setelah mengetahuinya baru boleh mengamalkan-nya.
Sarat dan rukun yang harus di pelajari antara lain:
1.RUKUN IMAN
Iman didirikan di atas enam perkara:
1.  Ber’itiqad (percaya) pada adanya Tuhan Allaahh Ta’ala yang Esa.
2.  Ber’itiqad (percaya) pada adanya malaikat Allaahh Ta’ala.
3.  Ber’itiqad (percaya) pada adanya kitab-kitab Allhahh Ta’ala.
4.  Ber’itiqad (percaya) pada adanya utusan-utusan AllaahhTa’ala.
5.  Ber’itiqad (percaya) pada adanya hari kiamat, ialah hari rusaknya alam dunia.
6.  Ber’itiqad (percaya) pada qadla dan qadarnya Allaahh bahwa adanya baik dan buruk itu cipta-an Allaahh Ta’alaa.
Adapun dalil ke-enam dasar iman di atas ini ialah sabda Nabi Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh sahabat Umar ra. sebagaimana yang dikutip oleh Imam Nawawi di dalam kitab Arba’in, ketika Nabi Muhammad saw diminta menerangkan apakah iman itu? lantas beliau bersabda
أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الأخر وتؤمن بالقدر خيره وشره
Antuu minnu billaahhi wa malaaiikatihhi wa rasulihhi walyawmil akhiri watuuminu bilqadari khayrihhi wa syarihhi.
Artinya:
Berimanlah kamu kepada Allaahh dan malaikatNya dan kitab-kitabNya dan utusan-utusan-Nya dan hari Qiamat dan imanlah kamu pada kepastian Allaahh dalam baiknya dan buruknya.
Oleh karenanya, barangsiapa yang beriman tetapi tidak berdasar pada enam hal tersebut, maka imannya tidak berguna dan tidak menghasilkan apa-apa kecuali berdiam selamanya di dalam siksa neraka.
2.RUKUN ISLAM.
Islam didasarkan pada lima perkara:
1.Mengucapkan dua kalimat syahadat:
أشهد أن لااله الاالله واشهد ان محمدا رسول الله 
Artinya:
Aku ber’iitiqad bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allaahh, dan aku ber‘itikad bahwa Nabi Muhmmad itu utusan Allaahh.
Bagi orang yang tidak bisa mengucapkan syahadat dengan bahasa arab maka cukuplah mengucap syahadat dengan bahasanya sendiri, asal saja artinya sesuai dengan syahadat bahasa arab tersebut. Pada dasarnya kewajiban mengucap syahadat sebagai dasar Islam itu sekali selama hidup, asal saja sesudahnya tidak pernah murtad.
2.Mendirikan shalat lima waktu:
Mendirikan shalat lima waktu,perlu di-ingat bahwasannya shalat lima waktu inilah tanda keislaman yang kelihatan tiap-tiap hari, dan inilah yang membedakan antara orang Islam dengan lain Islam, sebagaimana Dari Buraidah bin Hushaib radhiallahu anhu, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullaahh shallallaahhu alayhhi wa sallam bersabda;
العهد الذى بيننا وبين الكفر الصلاة فمن ترك الصلاة فقد كفر
"Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, siapa yang meninggalkannya, maka dia telah kafir." (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmizi, Nasa'i, dan Ibnu Majahh)
Yang dimaksud kufur di sini adalah kufur yang dapat mengeluarkannya dari agama, karena Nabi shallallaahhu alayhhi wa sallam menjadikan shalat sebagai batas antara orang beriman dengan orang kafir. Sebagaimana diketahui bahwa agama orang kafir berbeda dengan agama Islam, maka siapa yang tidak menunaikan janjinya, maka dia kafir.
Menurut Imam Syafi’i sabda ini berarti, bahwa perjanjian yang membedakan antara kita orang Islam dan orang kufur ialah shalat, maka siapa yang meninggalkan shalat, maka sungguh ia adalah orang kufur: Menurut Imam Hambali bahwa orang yang sengaja meninggalkan shalat niscaya ia menjadi kufur. Jadi apabila dia mati dalam keada-an tersebut, maka mayitnya tidak harus diurus secara Islam, artinya tidak dishalati atau dikubur di tanah kuburan Islam.
3.Membayar/mengeluarkan/memberi zakat:
Jangan lupa bahwa zakat itu ada beberapa bentuk; zakat fitrahh, zakat tanaman, zakat emas dan perak, zakat hewan ternak (mawasyi), Zakat dagangan (tijarahh) dan lain sebagainya.
4.Menunaikan puasa dibulan Ramadlan:
Puasa Ramadlan diwajubkan bagi Muslim, dan dalil dalil tentang kewajiban berpuasa semuanya diambil dari Qur-an dan Sunnahh. Di antaranya adalah firman Allaahh Ta’alaadalam(Al-Baqarah ayat;183-185):
Yaa ayyuhhaalladhiina aamanuu kutiba alaykumus-siyaamu kamaa kutiba ‘al lladziina min qablikum la’allakum tattaquun.
Ayyaaman ‘maduudaatin faman kaana minkum mariidlan aw ‘alaa safarin fa’iddatun min ayyaa min ukhara wa ‘alaa lladhiina yuthiiquunahhu fidyatun tha ‘aamu miskiinin faman tathawwa’a khayran fahhuwa khayrul- lahhuu wa’an tashuumuu khayrun lakum in kuntum ‘talamuun.
shahhru ramadlaana lladziiunzila fīihil qur-aanu hhudal-linnaasi wabayyinaatin minal hhudaa wal furqaani faman shahida minkumush-shahhra fal yashumhhu waman kaana mariidlaan aw ‘alaa safarin fa’iddatum min ayyaamin ukhara yuriidullaahhu bikumul yusra walaa yuriidu bikumul’usra walitukmiluul ‘iddata wali-tukabbiruullaahha ‘alaa maa hhadzaakum wala’allakum tasykuruun.
Artinya:
*Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
*(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyahh, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan)*, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.
*beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permula-an) Al Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allaahh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allaahh atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
)*maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.
Dalam hadits Abdullaahh bin Umar riwayat Al Bukhaary dan Muslim, Nabi shallallaahhu ‘alaihhi wa sallam menerangkan bahwa puasa adalah salah satu rukun Islam yang agung dan mulia,
بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Buniyal islaamu ‘alaa khamsin syahhadatin an laailaahha illaallaahhu wa anna Muhammadar-rasulullaahh waiqamish-shalaati wa iitaaiiz-zakaati walhajji washawmi ramadlaana.
Artinya:
Islam dibangun di atas lima (perkara, pondasi): Syahadat Laa Ilaahha Illallaahhwa Anna Muhammadan ‘Abduhhu wa Rasuuluhhu, mendirikan shalat, me­ngeluarkan zakat, berhaji ke Rumah Allaahh, dan berpuasa Ramadlan.”
Juga dalam hadits Thalhhahh bin Ubaidullaahh radliyallaahhu ‘anhhu riwayat Al-Bukhaary dan Muslim, ketika seorang ‘Araby bertanya kepada Rasulullaahh shallallaahhu ‘alayhhi wassallamtentang Islam, beliau bersabda,
خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِى الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ . فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهُنَّ قَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ وَصِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ . فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهُ فَقَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ . وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ فَقَالَ هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ : لاَ. إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ . قَالَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لاَ أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلاَ أَنْقُصُ مِنْهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ .
Artinya:
Shalat lima waktu (diwajibkan) dalam sehari dan semalam.” Maka, ia berkata, “Apakah ada kewajiban lain terhadapku?” Beliau menjawab, “Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunnahh. Juga puasa Ramadhan.” Maka, ia berkata, “Apakah ada kewajiban lain terhadapku?” Beliau menjawab, “Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunnahh,” dan Rasulullaahhshallallaahhu ‘alayhhi wa sallam menyebutkan (kewajiban) zakat terhadapnya. Maka, ia berkata, ‘Apakah ada kewajiban lain terhadapku?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada, kecuali hanya ibadah sunnahh.” Kemudian, orang tersebut pergi seraya berkata, “Demi Allaahh, saya tidak akan menambah di atas hal ini dan tidak akan menguranginya.’ Maka, Rasulullaahh shallallaahhu‘alayhhi wa sallambersabda, ‘Ia telah beruntung apabila jujur’”.
Selain itu, hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan pula oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Anas bin Malik radliyallaahhu ‘anhhu, dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Jaabir bin Abdillaahh radliyallaahhu ‘anhhumaa.
Selanjutnya, dalil lain terdapat dalam hadits Umar bin Khathab radliyallaahhu ‘anhu riwayat Muslim ,dan hadits Abu Hhurairah radliyallaahhu ‘anhhu riwayat Al-Bukhaary dan Muslim, tentang kisah Jibril yang masyhur ketika beliau bertanya kepada Rasulullaahh shallallaahhu ‘alaihhi wa sallam tentang Islam, Iman, Ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat. Ketika ditanya tentang Islam, Nabi shallallaahhu ‘alayhhi wa sallam menjawab,
الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلاً.
Artinya:
Islam adalah bahwa engkau bersaksi bahwa tiada yang berhak untuk di-ibadahi kecuali Allaahh dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allaahh, engkau menegak­kan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadlan, serta berhaji ke rumah (Allaahh) bila engkau sanggup menempuh jalan untuk itu.
Berdasarkan dalil-dalil di atas, para ulama bersepakat bahwa siapapun yang mengingkari kewajiban puasa dianggap kafir, keluar dari Islam, dan dianggap telah mengingkari suatu perkara, yang kewajibannya telah dimaklumi secara darurat dalam syariat Islam.
Seluruh dalil di atas menunjukkan keuta­ma-an puasa yang sangat besar dan menunjukkan bahwa betapa agung nikmat dan rahmat Allaahh bagi umat Islam.
Allaahh Subhaanahhu wa Ta’alaa dan RasulNya telah menjelaskan berbagai macam keutama-an puasa secara umum dan keutama-an puasa Ramadlan se­cara khusus. Agar kita dapat bersegera dalam hal menggapai rahmat Allaahh dan bergembira terhadap karunia dan nikmatNya, berikut ini, kami menyebutkan beberapa keutama-an puasa. Di antaranya adalah:
Pertama, ampunan dan pahala yang sangat besar bagi orang yang berpuasa.
Allaahh ta’alaaTsanaa’uhhu menyebutkan sederet orang-­orang yang beramal shalih, yang di antara mereka adalah laki-laki dan perempuan yang berpuasa, kemudian menyatakan pahala untuk mereka dalam firman-Nya,(Al-Ahzaab: 35):
Artinya:
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin)*, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta-atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allaahh, Allaahh Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
)*yang dimaksud dengan muslim di sini ialah orang-orang yang mengikuti perintah dan larangan pada lahiriyahnya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini ialah orang yang membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya.
Kedua, puasa adalah tameng terhadap api neraka.
Dalam riwayat Al-Bukhaary dan Muslim dari Abu Hurairahh radhiyallaahhu ‘anhhu, Nabi shalallaahhu ‘alayhhi wasallam bersabda,
وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَسْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّيْ امْرُؤٌ صَائِمٌ
Artinya:
Dan puasa adalah tameng. Bila salah seorang dari kalian berada pada hari puasa, janganlah ia berbuat sia-sia dan janganlah ia banyak mendebat. Kalau orang lain mencercanya atau memusuhinya, hendaknya ia berkata, ‘Saya sedang berpuasa.’.”
Juga dalam hadits Jabir, ‘Utsman bin Abil Aash, dan Abu Hurairahh radliyallaahhu ‘anhhu riwayat Imam Ahmad dan selainnya, Rasulullaahh shallallaahhu ‘alayhhi wa sallam bersabda,
الصِّيَامُ جُنَّةٌ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ
 Artinya:
Puasa adalah tameng terhadap neraka,seperti tameng salah seorang dari kalian pada peperangan.
Ketiga, puasa adalah pemutus syahwat.
Dalam hadits ‘Abdullaahh bin Mas’ud radliyallaahh ‘anhhu riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Rasulullaahh shallallaahhu ‘alayhi wassallam bersabda,
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Artinya:
Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, hendaklah ia menikah karena hal tersebut lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa karena sesungguhnya (puasa itu) adalah pemutus syahwatnya.”
Ke-empat, orang yang berpuasa mendapat ganjaran khusus di sisi Allaahh.
Hal tersebut karena puasa merupakan bagian kesabaran, sementara sabar terbagi tiga: sabar dalam hal menjalan­kan ketaatan, sabar dalam hal meninggalkan larangan, dan sabar dalam hal menerima ketentuan Allaahh. Orang yang berpuasa telah melakukan tiga jenis ke­sabaran ini seluruhnya, bahwa ia sabar dalam hal men­jalankan ketaatan yang diperintah dalam pelaksanaan puasa, sabar dalam hal meninggalkan segala hal yang dilarang dan diharamkan dalam pelaksana-an puasa, serta sabar dalam hal menjalani kepedihan terhadap lapar, haus, dan kelema­han pada tubuh. Karena puasa merupakan bagian kesabaran, wajar jika orang yang berpuasa mendapatkan pahala khusus yang tidak terhingga sebagaimana orang yang sabar mendapat pahala seperti itu. Allaahh Subhaanahhu wa Ta’alaaber­firman dalam (Al Qur’an surat Az-Zumar: 10):
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya:
Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabar­lah yang pahala mereka dicukupkan tanpa batas.
Kelima, orang yang berpuasa memiliki dua kegembira-an.
Ke-enam, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allaahh daripada bau wangian kasturi.
Tiga keutama-an yang disebut terakhir termaktub dalam hadits Abu Hurairah radhiyallaahhu ‘anhhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim bahwa Rasulullaahh shallallaahhu ‘alaihhi wasallam bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرَ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
Artinya:
Setiap amalan Anak Adam, kebaikannya dilipat­gandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allaahh ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa. Sesung­guhnya, (amalan) itu adalah (khusus) bagiKu dan Aku yang akan memberikan pahalanya karena (orang yang ber­puasa) meninggalkan syahwat dan makanan-nya karena Aku.’ Bagi orang yang berpuasa, ada dua kegembira-an: kegembiraan ketika dia berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia berjumpa dengan Rabb-nya. Sesung­guhnya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allaahh daripada bau kasturi.(Lafadh hadits adalah milik Imam Muslim)
Ketujuh, puasa sehari di jalan Allaahh menjauhkan wajah seseorang dari neraka sejauh perjalanan selama tujuh puluh tahun.
Dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudry radliyallaahhu ‘anhhuriwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullaahh shallallaahhu ‘alayhhi wasallam bersabda,
مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
Artinya:
Tidak seorang hamba pun yang berpuasa sehari di jalan Allaahh, kecuali, karena (amalannya pada) hari itu, Allaahh akan menjauh­kan wajahnya dari neraka (sejauh perjalanan) selama tujuh puluh tahun.”
Kedelapan, pintu khusus di surga bagi orang-orang yang berpuasa.
Dalam hadits Sahl bin Sa’ad As-Saa’idy radliyallaahhu ‘anhhumaa riwayat Al-Bukhaary dan Muslim, Rasulullaahh shallallaahhu ‘alayhhi wasallambersabda,
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مَعَهُمْ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَدْخُلُونَ مِنْهُ فَإِذَا دَخَلَ آخِرُهُمْ أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
Artinya:
Sesungguhnya, di surga, ada pintu yang dinamakan Ar­-Rayyaan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang melewatinya, kecuali mereka. Dikatakan, ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka memasukinya. Jika (orang) terakhir dari mereka telah masuk, (pintu) itupun dikunci sehingga tidak ada seorang pun yang melaluinya.
Kesembilan, puasa termasuk kaffarahh/pengganti semua peribadatan yang tertinggal dan atau kurang sempurna sebagai (penggugur) dosa hamba.
Dalam hadits Hadzaifahh Ibnul Yamaan radhiyallaahhu ‘anhhumaa riwayat Al-Bukhaary dan Muslim, Nabi shallallaahhu ‘alaihhi wa`sallam bersabda;
فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِيْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْىُ عَنِ الْمُنْكَرِ
Artinya:
Fitnah seseorang terhadap keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya dapat ditebus dengan puasa, shalat, shadaqahh, serta amar ma’ruf dan nahhi mungkar.”(Konteks hadits adalah milik Imam Muslim)
Juga dalam hadits Abu Hurairahh radhiyallaahhu ‘anhhu riwayat Muslim, Rasulullaahh shallallaahhu ‘alayhhi wasallambersabda:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
Artinya:
Shalat lima waktu, (dari) Jum’at ke Jum’at, dan (dari) Ramadlan ke Ramadlan, adalah penggugur dosa (seseorang pada masa) di antara waktu tersebut sepanjang ia menjauhi dosa besar.
Bahkan, puasa menjadi bagian kaffarat pada beberapa perkara seperti:
1.  Pelanggaran sumpah.
2.  Dhihhaar.
3.  Sebagian amalan haji.
4.  Pembunuhan Ahhludz Dzimmah orang yang berada di bawah perjanjian tanpa sengaja.
5.  Pembunuhan hewan buruan sa-at ihram.
Kesepuluh, puasa termasuk amalan yang mengakibatkan seseorang dimasukkan ke dalam surga.
Dalam haditsnya riwayat Ibnu Abi Syaibahh, Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan lain-lain, Abu Umaamah radhiyallaahhu ‘anhhu berkata kepada Nabi shallallaahhu ‘alayhhi wasallam,
يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمُرْنِيْ بِعَمَلٍ أَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ . قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لاَ مِثْلَ لَه
Artinya:
Wahai Rasulullaahh,perintahkan saya untuk suatu amalan, yang dengan-nya,saya dimasukan kedalam surga. Beliau menjawab,Berpuasalah, karena puasa itu tak ada bandingan-nya.
Kesebelas, puasa memberi syafa’at pada hari kiamat.
Dalam hadits Abdullaahh bin ‘Amr radhiyallaahhu ‘anhhumaa, Rasulullaahh shallallaahhu ‘alayhhi wasallam bersabda;
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِيْ فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِيْ فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ.
Artinya:
Puasa dan Al-Qur-an akan memberi syafa’at untuk seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Tuhanku, saya telah melarangnya terhadap maka­nan dan syahwat pada siang hari, maka izinkanlah saya untuk memberi syafa’at baginya.’ Al-Qur-an berkata, ‘Saya telah menghalanginya dari tidur malam, maka izinkanlah saya untuk memberi syafa’at baginya.’ (Beliau) bersabda, ‘Maka, keduanya men­dapat izin untuk mensyafa’ati (hamba) tersebut’.” (HR. Ahmad, Muhammad bin Nash Al-Marwazy, Al-Hakim, dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Tamaamul Minnahh hal. 394-395)
Kedua belas, pada Ramadlan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, serta syaithan dibelenggu.
Dalam hadits Abu Hurairahh radliyallaahhu ‘anhhuriwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullaahh shallallaahhu ‘alaihhi wasallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Artinya:
Jika Ramadlan telah tiba, pintu-pintu surge dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syaithan-syaithan dibelenggu.”
Ketiga belas, orang yang berpuasa pada Ramadlan, karena keimanan dan hal mengharap pahala, dosa-dosanya diampuni.
Dalam hadits Abu Hurairah radliyallaahhu ‘anhhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullaahh shallallaahhu ‘alaihhi wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:
Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan karena keimanan dan hal mengharap pahala, dosa­-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
5.Melaksanakan ibadah haji:
Ibadah haji diharuskan bagi setiap Muslim apabila kuasa dan cukupnya bekal dan amannya perjalanan dan sempat waktunya. Haji yang wajib hanya sekali dalam seumur hidup.
Adapun asal dalil lima dasar Islam tersebut ialah sabda Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan oleh Sayyidina Umar ra. sebagaimana yang dikutip oleh Imam Nanawi di dalam kitab Arba’in-nya:
الاسلام أن تشهد ان لااله الاالله وان محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتى الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت ان استطعت اليه سبيلا
Artinya:
Bahwa islam harus bersyahadatlah kalian, sesungguhnya tiada Tuhan selain Allaahh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alalahh, dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan puasalah kamu di bulan Ramadlan dan hajilah ke Baitullaahh jikalau kuasa perjalanan.
Kedua Rukun ini tidak bisa di pisahkan bagi siapa saja yang merasa Menghambakan diri-Nya kepada Allaahh Subhanahhuwata’alaa.
3.RUKUN IHSAN.
Rukun Ihsan adalah: bahwa anda beribadah kepada Allaahh Ta’ala seakan-akan anda melihatNya. Tapi jika anda tidak mampu melihatNya, maka sesungguhnya Allaahh melihat kita.
Mengenal rukun ihsan, ada berapa rukun ihsan?
Rukun ihsan ada satu, yaitu:
engkau beribadah kepada Allaahh seolah-olah engkau melihatNya, jika engkau tidak dapat melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.
Allaahh senantiasa mengawasimu dalam setiap gerak gerikmu. Allaahh melihat segala apa yang engkau lakukan.
Allahh melihat ibadahmu. Allaahh melihat rukuk dan sujudmu. Dan Allahh akan membalasmu dengan amalanmu.
Maka takutlah kepada Allaahh, karena Allaahh mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.
Allaahh memerintah kepada orang-orang yang beriman agar bertaqwa kepada Allaahh. Berarti sesudah Manusia beriman masih ada perintah lanjutan, yaitu perintah agar bertaqwa kepada Allaahh. Merujuk pada hadits yang diriwayatkan Muslim No.1, Terjemahan Shahih Muslim halaman 1-2 tentang Islamul Kaffahh. Adapun tiga pertanya-an Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad:
·  Pertama tentang Islam,
Dari urutan pertanya-an Malaikat tersebut jelas terdapat pelajaran, bahwa pertama manusia wajib menjalankan rukun Islam untuk mencapai predikat sebagai Muslim, yaitu orang-orang yang berserah diri.
·  Kedua tentang Iman.
tahap kedua manusia wajib menjalankan rukun Iman dan cabang Iman serta ranting-ranting Iman untuk mencapai predikat Mukmin, yaitu orang-orang yang beriman.
·  Ketiga tentang Ihsan.
adapun tahap ketiga manusia wajib menuntut Ihsan yaitu medan keilmuan didalam Islamul Kaffahh untuk mencapai predikat sebagai Muhsin, yaitu orang-orang yang mengenal Allaahh.
Allaahh memerintahkan orang beriman yaitu Mukmin untuk bertaqwa kepada Allaahh.
Berarti taqwa adalah merupakan satu-satunya rukun Ihsan. Adapun untuk memberi kejelasan sempurna tentang definisi taqwa, maka merujuk surat Al Baqarah ayat 282, yaitu orang bertaqwa adalah orang yang mendapat pelajaran atau didikan langsung dari Allaahh.

"Dan bertaqwalah kepada Allaahh; Allaahh mengajarmu; dan Allaahh Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Baqarah ayat 282):
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah)*tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allaahh mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allaahh Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keada-annya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allaahh dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahhmu itu), kecuali jika mu'amalahh itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allaahh; Allaahh mengajarmu; dan Allaahh Maha mengetahui segala sesuatu.
)*Bermu’amalahh ialah seperti berjual beli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan sebagainya.
Selanjutnya kita mengikuti pelajaran tentang Ihsan merujuk pada (Al Qur-an Surat Al Maidahh ayat 11):
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allaahh (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), Maka Allaahh menahan tangan mereka dari kamu. dan bertakwalah kepada Allaahh, dan Hanya kepada Allaahh sajalah orang-orang mu’min itu harus bertawakkal.

Firman Allaahh ini menjelaskan bahwa sesudah seseorang bertaqwa, Allaahh masih memerintah melakukan tahap lanjutan yaitu tawakal. Perhatikan kalimat “Bertaqwalah” dan berlanjut pada kalimat“Bertawakkal”. Dan kini menjadi jelas bahwa rukun islam ada dua yaitu taqwa adalah rukun Ihsan yang pertama, adapun tawakal menjadi rukun yang kedua.

Apakah masih ada rukun Ihsan selanjutnya ?, baiklah kita merujuk pada firman Allaahh Surat Shaad ayat 82-83
*Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya,
*Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlish di antara mereka)*.
)*yang dimaksud dengan mukhlish ialah orang-orang yang Telah diberi taufiq untuk menta-ati segala petunjuk dan perintah Allaahh s.w.t.

Firman Allaahh ini mengajarkan bahwa Iblis La’natullaahh bersumpah dihadapan Allaahh untuk menyesatkan seluruh manusia, tetapi Iblis La’natullaahh sendiri yang menyatakan bahwa ia tidak mampu menyesatkan Mukhlishina Lahuddin. Berarti ini suatu kejelasan bahwa tingkat Mukhlis adalah maqam tertinggi disisi Allaahh dan dapat dipastikan bahwa ia merupakan rukun Ihsan yang ketiga.

Maka sebagai kesimpulan bahwa rukun Ihsan ada tiga perkara:
·  Yang pertama taqwa.
·  Yang kedua tawakal.
·  Yang ketiga ikhlas atau Mukhlis.
Mengapa Allaahh dan RasulNya dalam urusan Ihsan tidak menjelaskan secara rinci sebagaimana dijelaskannya tentang rukun Islam dan rukun Iman, itu ketentuan atau ketetapan Allaahh dan RasulNya karena untuk menuntut Ihsan yaitu dimensi keilmuan dalam Islamul Kaffahh, Allaahh dan RasulNya telah mensunnahkan agar manusia menuntut dimensi Ihsan ini kepada orang ‘Alim pewaris Nabi. Perhatikan dua buah ayat ( Al Qur-an yaitu, surat Al Ambiya ayat 73):
Artinya:
Kami Telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami dan Telah kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan Hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah,
dan dalam (Al Qur-an surat As Sajadah ayat 24):
Artinya:
Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar)*. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.
)*yang dimaksud dengan sabar ialah sabar dalam menegakkan kebenaran.
Dua ayat Al Qur-an tersebut mengajarkan kepada siapa kita wajib menuntut Ihsan, yaitu kepada para Imam yang tugas mereka memberi petunjuk atau mengajar manusia dan mereka adalah orang-orang yang dituntun wahyu. Perhatikan kalimat “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai Imam-Imam”. Pada kalimat “Kami telah manjadikan mereka itu sebagai Imam-Imam”, kalimat ini merupakan penjelasan bahwa para Imam diangkat oleh Allaahh bukan diangkat atau disyahkan oleh manusia. Selanjutnya pada kalimat “yang memberi petunjuk dengan perintah Kami” mempunyai makna bahwa para Imam memberi petunjuk atau ajaran kepada manusia yaitu jama’ahnya, bukan dengan kemampuan akal atau kecerdasannya. Tetapi para Imam memberi petunjuk kepada manusia dengan perintah atau petunjuk Allaahh. Adapun kalimat “Dan telah kami wahyukan kepada mereka” memberikan kejelasan yang pasti bahwa para Imam tersebut benar-benar mampu menerima wahyu, yang dengan tuntunan wahyu itulah mereka mengajar manusia.

Untuk jelasnya tugas para Imam adalah memberi petunjuk yaitu mendidik manusia sampai ketingkat taqwa. Sesudah seseorang mencapai tingkat taqwa, orang tersebut tidak lagi dididik oleh Imamnya melainkan telah menjadi orang yang dididik Allaahh. Perhatikan firman Allaahh surat Al Baqarah ayat 282:

"Dan bertaqwalah kepada Allaahh; Allaahh mengajarmu; dan Allaahh Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Baqarah ayat 282)

Firman Allaahh ini memberikan pelajaran dengan jelas bahwa orang bertaqwa mendapat pelajaran atau didikan langsung dari Allaahh. Selanjutnya yang menjadi pertanya-an apakah yang diajarkan oleh Allaahh kepada orang bertaqwa. Sebagai jawabannya kita merujuk pada (Al Qur-an surat Yunus ayat 62-64):
*Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allaahh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
*(yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.
*Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allaahh. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.
Firman Allaahh ini memberikan penjelasan bahwa orang bertaqwa mendapat pelajaran dari Allaahh, yaitu ilmu laduni merupakan pelajaran jalan kewalian untuk memperoleh kemenangan yang besar. Perhatikan kalimat “Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allaahh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa”, serta kalimat “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allaahh. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”.

Perlu pula dijelaskan bahwa orang yang mendapat pelajaran dari Allaahh atau orang yang dididik Allaahh pada hakekatnya adalah mereka mendapatkan pelajaran-pelajaran jalan kewalian yaitu Ilmu laduni  atau Ilmu dari sisi Allaahh, dan merekalah orang yang bertaqwa. Perhatikan kalimat “(yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa”. Dalam (Q.S. Al Hadid ayat 28):
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allaahh dan berimanlah kepada RasulNya, niscaya Allaahh memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan dia mengampuni kamu. dan Allaahh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Juga dalam (Q.S. Al An’am ayat 122):
Aretinya:
Dan apakah orang yang sudah mati)* Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaa-nnya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang Telah mereka kerjakan.
)*maksudnya ialah orang yang Telah mati hatinya yakni orang-orang kafir dan sebagainya.
Dua ayat tersebut diatas merupakan haqeqat jalan kewalian bahwa orang yang dididik Allaahh akan mendapat dua rahmat. Perhatikan kalimat “niscaya Allaahh memberikan rahmatNya kepadamu dua bagian,
Adapun yang dimaksud dua bahagian rahmat adalah
·  Nurul Iman dan;
·  Nurul Ilmi.
Yang dimaksud nurul iman adalah seluruh pahala yang kita dapat dalam melaksanakan perilaku-perilaku iman atau amal sholeh. Untuk memperjelas hal tersebut perlu diterangkan bahwa bila kita melakukan amal sholeh pahala yang kita dapatkan adalah berbentuk cahaya atau nur, pahala shalat adalah nurusshalat, pahala zakat adalah nuruz zakat, pahala haji adalah nurul hajj’, semua pahala amal shaleh yang berwujud nur akan bersatu dengan ruh manusia yang melakukan amal shaleh tersebut sehingga ruh manusia tersebut bertambah cemerlang.

Adapun nurul ilmu adalah berupa pahala dzikrullaahh dan hasil dari mengamalkan secara berkekalan gagasan ilmu yang ditentukan dalam hadits Nabi misalnya ayat Kursy, Amanarasul, Kanzul Arsy, Nurbuat’, ayat lima, ayat tujuh, ayat lima belas, Al Fatihahh dan lain-lain.

Selanjutnya perlu dijelaskan bahwa pahala mengamalkan gagasan ilmu yang ditunjuk oleh Nabi dan dzikrullaahh mendatangkan pahala berbentuk cahaya atau nur. Karena yang diamalkan adalah ayat-ayat Qur-an maka yang diturunkan oleh Jibril kedalam hati manusia dan bergabung menyelimuti ruh insani atau ruh pribadi orang yang mengamalkan gagasan ilmu tersebut adalah berwujud nurul Qur-an, dimana nurul Qur-an tersebut bergabung menyelimuti ruh insani orang yang mengamalkan gagasan ilmu yang dirujuk oleh Nabi.

Adapun maksud kalimat “dan menjadikan untukmu nuur yang dengan nuur itu kamu dapat berjalan”. Kalimat ini memberi pengertian bahwa orang ‘Alim yang telah mendapatkan dua rahmat, nurul Iman yang membuat ruh insani menjadi cemerlang dan mendapat nurul Ilmi yang menyelimuti ruh insani, yang berakibat ruh insani tersebut lebih cemerlang. Selanjutnya Allaahh berfirman Allaahh akan memberikan nur tambahan yang dengan nur itu orang ‘Alim dapat berjalan.

Untuk memahami makna firman Allaahh tersebut perlu disampaikan firman Allaahh yang lain yaitu (Qur-an surat Al An’am ayat 122):
Artinya:
Dan apakah orang yang sudah mati)* Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keada-annya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang Telah mereka kerjakan.
 
)*maksudnya ialah orang yang Telah mati hatinya yakni orang-orang kafir dan sebagainya.
tahap kedua manusia wajib menjalankan rukun Iman dan cabang Iman serta ranting-ranting Iman untuk mencapai predikat Mukmin, yaitu orang-orang yang beriman.
Perhatikan yang berbunyi “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya nuur yang terang, yang dengan nuur itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia”. Maka setelah mempelajari ayat tersebut dapat diketahui makna firman Allaahh yang berbunyi “dan menjadikan untukmu nuur yang dengan nuur itu kamu dapat berjalan”, yaitu bahwa orang berilmu yang sudah mati Allaahh akan hidupkan kembali dan sebagai pengganti jasad yang telah rusak Allaahh mengganti dengan jasad yang baru yaitu nur yang terang. Perhatikan kalimat “Dan menjadikan untukmu nuur”, adapun fungsi nur tersebut adalah sebagai pengganti jasad. Dengan jasad yang baru tersebut para Wali Allaahh tidak mati dan tetap dapat berjalan di muka Bumi sebagaimana layaknya manusia hidup, hanya saja jasad mereka yang lama yang berwujud daging dan tulang telah tergantikan dengan jasad yang berwujud Nur. Perhatikan kalimat “yang dengan nuur itu kamu dapat berjalan”.
Untuk memperjelas haqeqat Al Qur-an adalah berwujud nur dan bahwa Al Qur-an benar-benar berada didalam dada orang berilmu maka dikemukakan dua firman Allaahh.

Didalam (Q.S Asy Syuura ayat 52):
Artinya:
Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur-an) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur-an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Juga dalam (Q.S. Al Ankabut ayat 49):
Artinya:
Sebenarnya, Al Qur-an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu)*, dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang dhalim.
)*Maksudnya: ayat-ayat Al Qur-an itu terpelihara dalam dada dengan dihapal oleh banyak kaum muslimin turun temurun dan dipahami oleh mereka, sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mengubahnya.
Seorang Imam yang diangkat oleh Allaahh adalah orang-orang yang bertaqwa yang memiliki nasab keilmuan berawal kepada shahabat Nabi yang bernama Ali Bin Abi Thalib. Yang dimaksud nasab Ilmu bahwa seorang Imam sebelum menjadi orang yang bertaqwa, Imam tersebut pasti memiliki guru, dan guru Imam tersebut pasti juga memiliki guru yang bila diusut dari semua guru tersebut berawal dari guru awal yaitu Sayidina Ali Karamatullaahh Waj’hhahh. Perhatikan hadits Nabi :

“Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya . Maka barangsiapa menghendaki ilmu maka hendaklah dia mendatangi pintu”. (HR. ‘Uqaili, Ibnu ‘Adi, Thabraani dl Al- Kabir dan Hakim dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Adi dan Hakim dari Jabir, Al Jami’us Shaghier 2, hal. 193).

“Aku adalah kota hikmah, dan Ali adalah pintunya. (Tirmidzi manaqib Ali Bin Abi Thalib,  3657).
4.SYAHADAT.
Syahadat ialah: Persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allaahh dan Muhammad adalah utusan Allaahh. Penjelasan tentang arti (perssaksian ini) dan syarat-syarat LAA ILAAHHA ILLALLAAHH adalah sebagai berikut:
LAA ILAAHHA = (tidak ada Tuhan), berarti meniadakan seluruh yang disembah selain Allaahh Ta’alaa.
ILLALLAAHH = (selain Allaahh), berarti menetapkan ibadah untuk Allaahh saja tidak ada sekutu bagiNya.
Syarat-syarat (persaksian) LAA ILAAHHA ILLALLAHH, sebagai berikut:
1.  Ilmu yang tidak di campuri dengan kejahilan/kebodohan.
2.  Keyakinan yang tidak dicampuri dengan keraguan.
3.  Ikhlash yang tidak dicampuri dengan kesyirikan.
4.  Kejujuran yang tidak dicampuri dengan kebohongan.
5.  Kecinta-an yang tidak dicampuri dengan kebencian.
6.  Keta’atan yang tidak dicampuri dengan pembangkangan.
7.  Penerima-an yang tidak dicampuri dengan penolakan.
8.  Pengingkaran terhadap seluruh yang disembah selain Allaahh.
Syarat-syarat diatas dihimpun dalam syair  dibawah ini:
‘Ilmuny yaqiinun waikhlaashun washidquka ma’a mahabbatin waanqiyaadin walqabulin lahha wajida tsaaminuhhaal kufraanu minka bima siwaalilaahhi minal asyyaa-i qad ullihhaa.
Artinya: ‘Ilmu, keyakinan dan keikhlashan serta kejujuranmu, bersama cinta dan ta’at serta menerima-nya, di tambah (syarat) yang kedelapan adalah pengingkaran-mu, terhadap segala sesuatu yang diperTuhankan selain Dia.
Penjelasan tentang persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allaahh adalah sebagai berikut:
1.Mempercayai seluruh yang beliau kabarkan.
2.Menta’ati seluruh yang beliau perintahkan.
3.Menjauhi seluruh yang beliau larang/cegah.
4.Tidak beribadah kepada Allaahh kecuali sesuai dengan yang dicontohkan oleh beliau Nabi Muhammad shalallaahhu a’layhhi wasalam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar