Selasa, 29 Maret 2016

ILMU HAQIQAT


ILMU HAQIQAT
Ali bin Abi Tholib r.a Karamallaahhu Wajhhahh berkata : “Tidak Syah Sholat seseorang melainkan dengan Mengenal akan Allaahh ”. Di dalam perjalanan Ma’rifatullah/Mengenal akan Allaahh maka di mulai dengan Mengenal akan Diri sendiri (Diri yang sebenar-benarnya Diri). Sebab diri yang dikatakan sebenar-benarnya diri itu, yang memiliki hubungan langsung dengan Tuhannya. Tentu bagi mereka yang sudah paham tentang Ma’rifat telah mengetahui yang mana sih…., diri yang harus di kenal itu.
Akan tetapi dari mereka-mereka yang telah kenal akan diri banyak yang tidak menyadari bahwasannya apa yang telah dilaluinya/ diketahuinya itu masih sebatas Kulit dalam pandangan Arifbillaahh. Kenapa demikian..? karena diri yang banyak diketahui oleh sebagian penuntut Ma’rifatullaahh itu masih terbatas kepada diri yang ada pada dirinya sendiri. Dan ada juga yang terbatas pada pandangannya kepada orang yang diistimewakan dan diagungkannya. Sedangkan Ma’rifat yang sebenarnya dan sesempurna-sesempurnanya adalah Ma’rifat yang Universal, tidak ada batasanya dan tidak terbatasi oleh diri sendiri saja maupun orang tertentu saja. Setiap orang yang berada di dalam lingkaran Ma’rifat merujuk kepada Sumber Pengetahuan Allaahh  atau Sumber Hakikatullaahh yang di sebut dengan “Nur Muhammad ”, sebagaimana dalil yang telah dipahami oleh mereka-mereka yang ber paham Ma’rifat bahwa “Nur Muhammad” itu awal-awal dari segala sesuatu.
Dengan Nur itu maka terciptalah Seluruh sekalian Alam beserta isinya. Rosulullaahh Saw bersabda : “Bahwasannya Allaahh Swt telah menjadikan akan Ruh-ku daripada Dzat-Nya sedangkan sekalian Alam beserta isinya terbit dari pada Nurku (Nur Muhammad)”. Sabda Rosulullaahh Saw yang lain : “Sesungguhnya Aku adalah Bapak sekalian Ruh sedangkan Adam adalah Bapak dari sekalian batang tubuh (Jasad)”. Dari  dalil tersebut telah menguraikan bahwa Hakikat Nur Muhammad itu tidak hanya ada pada satu diri saja melainkan ada pada setiap yang maujud. Sehingga tak terbatas bagi Nur Muhamad itu, melainkan meliputi sekalian Alam termasuk pada diri sendiri.
Jika seseorang mengenal akan Allaahh melalui Nur-Nya (Nur Muhammad) yang ada pada dirinya sendiri maka belum lah dikatakan mengenal akan Allaahh yang meliputi sekalian Alam. Begitu juga jika seseorang mengenal akan Allaahh melalui Nur-Nya (Nur Muhammad) yang ada hanya pada orang-orang tertentu yang diistimewakannnya dan diagungkannya dari diri Ustadz-ustadznya, Guru-gurunya, Syaikhnya ataupun Mursyidnya maka sesungguhnya ia masih terhijab oleh yang sesuatu yang dipandangnya. Rumus dari pada Ma’rifatulah yang sebenarnya dan Universal itu adalah : “Syuhudul Wahdahh Fil Katsrohh, Syuhhudul Katsroh Fil Wahdahh”. (Memandang yang Satu (Nur) ada pada yang banyak, memandang yang banyak ada pada yang Satu).
Saya mau katakan bahwa seseorang yang mengenal Allaahh sebatas pandanganya kepada dirinya sendiri atau orang tertentu yang diistimewakan dan diagungkannya maka mereka itu mengenal akan Allaahh masih sebatas Kulit saja dari pemahaman Marifatullaahh yang sesungguhnya. Jika demikian!, bagaimana mungkin ia akan sampai kepada keikhlasan tertinggi dan bagaimana mungkin ia mengatakan telah bertemu dengan Allaahh sedangkan di halaman Istana Allaahh saja (DARKATUL QUDRAT) ia belum memasukinya, karena masih terhalang/terhijab pandangannya dari sesuatu selain Allaahh Swt (HAQQUL HAQIQI). Jika anda benar-benar ingin menjumpai Allaahh dan bertemu dengan Allaahh (LIQO’) maka lepaskanlah pandangan hatimu dari sesuatu apapun. Jangan berhenti pada pandangan JAMALULLAAHH/ KEINDAHAN ALLAAHH maka niscaya engkau akan mabuk dan takjub di dalamnya.
Pandanganmu akan  Haqeqat/Hakikat Nur yang ada hanya pada dirimu saja atau yang ada hanya pada orang yang engkau kagumi dan istemawakan saja membuktikan bahwa tanpa engkau sadari engkau telah tenggelam dan mabuk di dalam sifat JAMALULLAAHH/KEINDAHAN ALLAAHH. Ketahuilah! Bahwa untuk sampai kepada Allah Swt dengan melalui EMPAT tahapan, yaitu : JALALULLAAHH (Kebesaran dan Keagungan Allah) JAMALULLAAHH (Keindahan Allaahh) QOHHARULLAAHH (Kekerasan/Kepastian Allah) KAMALULLAAHH (Kesempurna’an Allaahh) Untuk bisa menaiki tahapan-tahapan tersebut agar sampai kepada KAMALULLAAHH (KESEMPURNA-AN ALLAAHH), maka wajib baginya Satu Pandangan yaitu Allaahh Swt tanpa melalui perantara selain Nur Muhammad.
Sedangkan Nur Muhammad itu meliputi setiap yang Maujud termasuk pada diri sendiri. Sehingga yang dikatakan sebenar-benarnya Guru/Mursyid Murobbi adalah Nur Muhammad Rosulullah Saw sebagai pemegang Kunci Pintu Surga/MIFTAHUL JANNAHH. Siapapun mereka itu, jika Satu yang di pandang yaitu Allaahh Swt, melalui Hakikat Nur Muhammad yang meliputi sekalian Alam maka tidak ada sebutan yang pantas baginya selain “ARIFBILLAAHH”. Jika masih ada pandangan yang terbatas atau dibatasi tentang Hakikat Nur Muhammad itu pada beberapa diri saja maka belumlah pantas baginya menyandang sebutan “ARIFBILLAAHH” melainkan mereka itu masih di sebut dengan orang yang berada pada “THARIKAT/Perjalanan” menuju kepada Allaahh. Mursyid Murobbi tidak hanya ada pada satu diri Melainkan Meliputi setiap “Kaun Maujudi” Siapa yang sanggup mematikan Diri Itulah Langkah Awal menuju Diri Sejati
Jangan tertipu dengan apa yang dipandang Karena semuanya hanyalah bayang-bayang Tidak terpisah Alhaq  dengan selayang pandang. Tujulah kepada satu yang ada di dalam pandang. Belumlah dikatakan sebenar-benarnya mengenal. Sebelum engkau mengerti JALAL, JAMAL, QOHHAR DAN KAMAL Empat sifat yang maujud dan Nyata pada Nur-Nya. Alif itu menunjukkan akan Zat-Nya Lam Awal adalah ketetapan Sifat-Nya Lam Akhir kenyataan Asma’ Nya Sedangkan Ha adalah bukti dari Af’al-Nya Kesempurnaan Allaahh dalam keserba meliputannya Pada Muhammad Rosulullah segala rahasianya Sebagai inti dasar dari sekalian alam Menjadi saksi kemaujudannya Alif adalah jati diri Muhammad Kaf itu adalah Ilmu Muhammad Ba’ adalah Kelakuan Muhammad Ro’ itu kehendak pada diri Muhammad Dari situlah Maha Agung Allaahh Ta’ala Dalam keserba meliputan sekalian Alam Allaahh dan Muhammad satu Rahasia Menjadi Kalimah ALLAAHH dan AKBAR Karena itulah Rosulullaahh bersabda “Agungkanlah dan besarkanlah Kalimah Allaahh : Allaahhu Akbar.. Allaahhu Akbar…  Walillaahhilhamd”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar